When the Train Hits You Early

Kenapa novel ini begitu populer? Padahal “cuma” bercerita soal perempuan pecandu alkohol yang tiap pagi naik kereta ke London lalu suatu hari ia terlibat kasus pembunuhan. Untuk saya, ada tiga faktor yang melatari melesatnya buku ini ke rak top seller di toko buku.

Pertama: Tokoh utama yang mengundang simpati

Jika setiap tokoh utama di buku buku yang kita baca tidak memiliki masalah yang cukup pelik untuk turut kita pikirkan, niscaya buku tersebut tidak akan menarik. “Masalah” ini yang dimainkan oleh penulis agar pembaca hooked dengan tokoh utama. Saya tentu ogah membaca sebuah buku jika tokoh utamanya berupa perempuan cantik jelita kaya raya punya kekasih ga kalah rupawan dan penuh harta lalu keduanya jalan jalan keliling dunia sambil ketawa ketawa ngabisin duit hingga halaman terakhir.

The_Girl_On_The_Train_(US_cover_2015)

Filmnya rilis Oktober tahun ini, yang main Emily Blunt.

Hawkins mendampuk Rachel Watson sebagai perempuan 32 tahun yang ditinggalkan Tom Watson suaminya untuk wanita lain, Anna Watson. Rachel adalah seorang alkoholik, dipecat dari pekerjaannya, kehabisan uang hingga harus menumpang di rumah adiknya, dan berpura pura masih bekerja di London dengan menaiki kereta api setiap pagi selama berbulan bulan. Oh, seolah hidup Rachel masih kurang blangsak, dia dinyatakan ga bisa punya anak.

Hingga sepertiga buku saya menaruh simpati sedalam dalamnya untuk Rachel, betapa bangsatnya Tom yang meninggalkannya karena meraka ga bisa punya anak, Tom yang berselingkuh dan seterusnya. Namun simpati ini berubah perlahan menajadi pertanyaan “Hooh, why won’t you get help, find AA meeting and get your shits together”, hal ini dilatari dengan adanya 3 sudut pandang yang dimainkan bergantian. Rachel, Anna dan Megan/Jess yang memberikan pembelaan mereka terhadap keburukan yang dilemparkan masing masing.

Kedua: Konflik konflik klasik khas masyarakat urban

Kecanduan alkohol karena masalah hidup yang pelik, suami selingkuh lalu menikahi selingkuhannya, rasa iri terhadap kehidupan sempurna milik tetangga, inferioritas, alienasi, depresi dan paranoia adalah potion yang membumbui novel ini. Hal hal seperti ini cukup familiar di kehidupan urban kekinian sehingga tidak berlebihan jika novel ini dipuji dengan sebutan Psychology Thriller.

Ketiga: Dramatis

Perselingkuhan, check

Mabok sampai dipecat, check

Mabok sampai lupa ingatan, check

Cat fights over a men, check

Melabrak rumah orang, check

There’s countless number of drama on the novel and we all love it, right? :)))

Ketiga formula itu dilengkapi dengan bahasa tutur yang bagus, runut kejadian yang meskipun maju mundur namun tetap mudah dipahami dan Hawkins yang pandai mengatur mood pembaca dengan adanya tiga perspektif. Buku yang menyenangkan untuk dihabiskan sambil menunggu antrian. Habis dalam dua kali duapuluh empat jam ❤

Sampit, 21 September 2016

Life’s suck. Jangan jadi kek Rachel Watson.

South of the Border, West of the Sun

Selepas maraton dinas, saya menemukan buku ini di dasar koper. Merely touched. Bertekad untuk menghabiskannya dalam kurun empat hari sebelum memulai proyek #MembacaTebal di minggu selanjutnya. Buku ini begitu menyenangkan hingga saya tidak sadar telah mencapai halaman terakhir di hari kedua. Meski jika dijabarkan secara sederhana ini adalah cerita tentang lelaki yang memiliki obsesi berlebihan terhadap cinta monyetnya kala SD hingga menimbulkan alter-reality, saya tetap percaya bahwa cinta yang sedemikian besar bisa mengubah banyak hal (kewarasan, misalnya)

Saya menyukai Hajime, tokoh pria sebagai sudut pandang pertama di buku setebal 214 halaman ini. Dia begitu menyukai Shimamoto -teman masa kecilnya- hingga menghabiskan 25 tahun (dan sepertinya terus berlangsung) untuk menghidupkan sosok perempuan yang tidak siapapun tau di mana sama siapa sekarang berbuat apa dalam detil yang luar biasa nyata dan meyakinkan.

https://i0.wp.com/cdn.wordables.com/wp-content/uploads/2015/12/HarukiQuotes9.png

I love the way Google Image Search the most alay version of Murakami’s quotes

Di akhir buku, disebutkan bahwa semua hal nyata yang menghidupkan skena kembalinya Shimamoto setelah 25 tahun perpisahan ternyata tidak pernah ada. Dan di sepanjang buku kita hanya sedang melihat proyeksi khayalan Hajime semata. Saking canggihnya kemampuan menulis pak Murakami, saya tidak menduga hal ini sama sekali. Saya kira akan ada penjelasan panjang lebar tentang apa saja yang terjadi di hidup Shimamoto seperti bagaimana ia bisa begitu kaya padahal tidak sekalipun pernah bekerja? nyet itu yang dilarung ke laut anak siapa nyet? kenapa ada om om ngasih seratus ribu yen buat brenti stalking Shimamoto dan seterusnya.

Ternyata yha, biasa, ga ada penjelasan apa apa karena semua itu khayalan semata hahahahabangsathahaha. Namun buku ini tetap menyenangkan, tidak sepahit Wind-Up Bird Chronicle atau seabsurd trilogi The Rat (Pinball – Wild Sheep Chase – Dance Dance Dance). Nyaris memiliki taste semanis Norwegian Wood namun tidak segelap itu. Soal cari mencari pengentas kesepian di masa muda dan menemukan perkara cocok di antara manusia. Laif.

Note: Dalam jeda setelah menamatkan The Elephant Vanishes kemarin, saya menghabiskan Paula Hawkins – The Girl on the Train yang filmnya akan rilis di bulan Nopember tahun ini. Membayangkan Emily Blunt sebagai Rachel Watson di buku ini rasanya mendebarkan karena she’s exactly who am I gonna pointed out as Rachel.

Things are great lately  ❤

Sampit, 16 September 2016

Menunggu Desember dengan tidak sabar!

 

A Trip to Remember

I rarely post my trip experiences. I’m not that good on describing what I feel and found the amazingness of the place I’ve been going. It’s September already and last night I had this thought before I hit the sack.

Men Nani udah jalan jalan ke banyak tempat sekali tahun ini.

Jadi ini dituliskan untuk mengingatkan diri sendiri di tahun tahun selanjutnya soal betapa saya semestinya tidak menggugat berlebih terhadap hidup yang tidak berjalan mulus. Entry kali ini akan dipenuhi selfie. I warn you.

Bali (29 Desember 2016 – 2 Januari 2016)

Ini kali pertama saya pergi ke Bali, menginap di Kuta untuk kemudian pindah ke Sanur dua hari setelahnya. Bertemu Pitooooo \o/ dan menghabiskan pagi – sore seliweran di pantai dan mencicipi kopi kopi enak, makanan makanan lezat dan perbincangan hangat aww.

Bali – Jakarta – Bali (23 – 31 Januari 2016)

Kali ini ke Bali (lagi) karena niatan nonton Ari Reda di Taman Ismail Marzuki pada 26 Januari. Mumpung weekend, melayanglah gadis ini ke haribaan Sanur untuk menyapa residen Ubud kesayangan dan Pito. Lalu menyaksikan Ari Reda yang memukau selama tiga jam pagelaran dan kembali ke Bali untuk nonton Navicula! Bulan yang menyenangkan indeed. Oh, saya juga menghadiri Malam Puisi Bali dan menjadi turis ga tau diri membacakan puisi Lang Leav dan Aan Mansyur. Bhihik.

 

Bali (08 – 12 April 2016)

Iya Nani ke Bali lagi hahaha. Kali ini untuk ngapain ya.. wait.. oke kali ini tanpa alasan selain kebetulan ada libur panjang (?) atau lainnya. Kembali menyambangi residen Ubud dan secara abusive menghajar Kuta dan Seminyak bermodalkan sepeda motor sewaan.

Bali (13 – 18 Mei)

Oke saya ke Bali lagi. Kalau tiap berangkat dan balik ke Sampit membawa satu kodi Pie Susu Dian, mungkin di tahun ini saya sudah sukses menjadi re-seller leholeh khas Bali itu. Di titik ini saya telah sukses dikenali oleh para waitress Smorgas – Jl. Danau Tamblingan dan ikrib bingit sama Pito dan kengkawannya di Helmen Coffee. Dan residen Ubud masih seenak empat kunjungan sebelumnya.

Kali ini saya membawa misi untuk menyaksikan pagelaran Ari Reda di Rumah Sanur – Jl. Danau Poso. Saat pagelaran berakhir dan saya kudu packing untuk mengejar penerbangan pagi keesokan harinya, di sela seruput terakhir soto yang enak banget itu saya memutuskan untuk tidak ke Bali dulu sementara waktu. Setidaknya sampai saya sembuh. Nani sakit kolesterol. Men.

Screen Shot 2016-09-11 at 12.30.19 PM.png

Singapura (30 Juni – 6 Juli 2016)

Berawal dari “Nan ke Vietnam yuk” dari Rida, saya menyelesaikan pembuatan pasport dalam kurun waktu SEHARI. Terimakasih kepada Manager HRD KLK Kalteng, I owe you one muach. Mengurus itinerary dan sekelumit perpesanan hotel melalui jasa pemesanan online, semua sudah fix lengkap dengan peta Ho Chi Minh City dan Rida telah membayar bagiannya. Lalu pada H MINUS SATU, Rida yang saat itu ada di Jakarta menelpon soal.

“Nan kayaknya Vietnam kejauhan, ke Singapore aja yuk”

Saya sayang Rida, namun kali ini sekurangnya tiga puluh menit saya habiskan untuk memprotes soal gila ya saya bikin pasport sehari jadi buat ke Singapore doang. Long story short, usai semua pembatalan dan re-route penerbangan, saya mendapatkan tiket ke Singapore 4 kali lipat harga normal lantaran pembelian dilakukan kurang dari 24 jam sebelum keberangkatan dan itu sedang libur lebaran. Of course.

Rida? oh dia beli tiket seharga 8 kali lipat harga normal pada dua jam sebelum keberangkatan. Di Bandara. Kek perkara pergi ke Singapure serupa kaya naik kereta api ke Sleman.

Kami memang bukan traveller paling cerdas sedunia.

Empat hari di Singapura itu seru! Pertama kalinya saya pergi ke luar negeri dan berhadapan dengan toilet kering ke manapun menuju. Secara agresif makan SubWay dan melakukan tourist cliche di beberapa spot turis di sana. FUN!

Surabaya (13 – 14 Agustus)

Trip kali ini didasari rasa penasaran terhadap ide iseng gimana kalau weekend ke luar kota tanpa kudu ambil cuti atau nunggu tanggal merah. Pada tanggal 12 tepatnya jam dua subuh saya membeli tiket penerbangan paling pagi ke Surabaya dan pulang paling sore di tanggal 14. Eh ternyata bisa loh, tiba di Surabaya jam 9 pagi lalu mengitari mall TP yang sekarang sudah ada enam biji lalu menunaikan urusan di ZAP Clinic, nonton, nongkrong, ke mall lagi keesokan harinya lalu pulang.

Cukup untuk kabur singkat dari Sampit, tapi untuk ditunaikan setiap minggu seperti ide semula, rasanya tidak setimpal dengan pegel badan aja.

Jakarta (20 – 22 Agustus)

Ke Jakarta sebenarnya tidak bisa dianggap sebagai liburan. Namun kali ini perginya bersama tiga orang kawan lainnya and we had a great time for 2 days in Jakarta! Ditambah lagi seluruh keperluan saya disponsori! Hahaha. Terbang melalui penerbangan paling sore ke Semarang lalu tiba di Jakarta menjelang tengah malam untuk kemudian berhura hura dan mall-hopping keesokan harinya. FUN ❤

Jakarta – Surabaya – Medan – Pekanbaru – Belitung (25 Agustus – 6 September 2016)

Permohonan cuti pada 25-26 Agustus sudah saya ajukan sebulan sebelumnya. Alasannya, saya ingin menghadiri pagelaran Teater Bunga Penutup Abad di Gedung Kesenian Jakarta. Teater yang tiketnya telah saya beli jauh sebelum permohonan cuti disetujui karena tiket telah nyaris habis sebulan lebih sebelum pertunjukan. Saya kebagian tiket VIP that cost me some fortune tapi tidak saya sesali karena tempat duduk saya strategis sekali.

Seminggu sebelum berangkat, dua berita saya terima. Satu; cuti saya tidak diluluskan dan dua; pada tanggal itu saya harus berangkat dinas untuk photoshoot seluruh anak grup KLK di Indonesia. WTF.

Nyaris semalam penuh saya menimbang betapa saya akan menyesal jika tidak menyaksikan teater yang diangkat dari novel Bumi Manusia-nya Pram ini. Ditambah dengan fakta bahwa tiketnya susah didapat. Betapa dekat saya dengan tunainya keinginan tersebut dan betapa mendesak ia untuk dipenuhi. Akhirnya, dengan keberanian entah dari mana, saya yang hanya remah korporat ini menghubungi Presiden Direktur perusahaan kami di Jakarta dan meminta agar jadual dinas saya dimundur serta saya diizinkan cuti untuk nonton teater.

Pertanyaan beliau : “What? How? What the.. Nani, that presentation have to be done in 24, and our time is tight. And your bloody theatre, what is that all about?”

Men, kalau levelnya Regional Direktur saya masih bisa cengengesan dan ngarang ini-itu. Di hadapan Presdir begini saya hanya merasa kurang tepat untuk berbohong. Akhirnya saya jelaskan semua secara panjang lebar dan betapa saya ingin nonton pagelaran tersebut lantaran jangkauan temanya adalah sesuatu yang sejak remaja saya sukai. Beliau akhirnya setuju, dengan saya yang penuh keyakinan menyatakan akan menyelesaikan draft awal sebelum tanggal 7 sehingga dia punya sekurangnya 4 kali kesempatan untuk review dan revisi. (update, ini tanggal 11 dan kami telah melakukan dua kali review, beliau bilang semuanya oke dan tinggal menunggu beberapa data tambahan dari akuntan lalu beres. YAY)

Begitulah, drama di balik Teater Bunga Penutup Abad. Men itu empat jam paling bahagia dalam hidup saya. Nyaris tanpa kedip saya menyaksikan perwujudan novel Pak Pram, ke dalam teater. Penampilan Happy Salma yang tanpa cela, Reza Rahardian yang utuh hadir sebagai Minke. Duh.

Lepas dari Jakarta, pada 26 Agustus saya berangkat ke Surabaya selama dua hari untuk beberapa urusan. Lantas memulai dinas sambil nyolong liburan dan kopdar di hari Senin. Di Medan saya bertemu kawan lawas dari twitter, makan duren di tempat paling klise untuk turis lalu melakukan photoshoot di tiga kabupaten berbeda. Lalu melanjutkan ke Pekanbaru, photoshoot di dua kabupaten dengan arah berlawanan sehingga sungguh menguras energi lalu ke Jakarta untuk preview awal. Lalu melanjutkan ke Tanjung Pandan untuk sehari penuh memanfaatkan fasilitas kantor untuk pergi ke pantai pantai di sepanjang Tanjung Pandan – Kelapa Kampit dan diving di pulau Lengkuas kyaaaaaa.

Pulang pada tanggal 6 dan preview kedua keesokan harinya. Saya sendiri bertanya tanya kenapa saya masih sehat secara fisik dan mental setelah deadline beruntun sejak awal Agustus kemarin hahaha. Ini adalah rute terpanjang saya dalam bepergian. Dan trip kali ini cukup untuk membuat saya kalem tidak ingin pergi ke mana mana sekurangnya hingga tahun depan. Airport juggling, tons of hotel check in, aju merasa cukup dengan semuwa ituw.

2016 adalah tahun yang menyenangkan. Saya banyak membaca, banyak bepergian, banyak menemui keseruan di tahun ini. September akan habis dalam kedipan mata, saya yakin itu. Setelah pergi ke banyak tempat dan bertemu banyak orang, saya mulai memikirkan soal  iya, memangnya kenapa sih saya kudu keukeh banget tetap di Sampit? menyusul tawaran Presdir untuk menempati posisi PR dan memimpin communication department di kantor pusat dengan gaji yang tentu berkali lipat. Tawaran yang sudah dua kali saya tolak dengan alasan saya tidak ingin meninggalkan bos saya di regional karena saya ingin berterima kasih dengan tetap di sini sampai beliau pensiun.

Oh, saya sangat menyayangi bos saya yang satu ini. Saya muncul di hadapan beliau untuk melamar pekerjaan tanpa modal apapun kecuali keberanian. Perusahaan ini membutuhkan sarjana bahasa inggris/komunikasi yang menguasai desain dan pengalaman bekerja di perkebunan minimal dua tahun. Saya muncul dengan kondisi resume awur awuran, tanpa rekomendasi lantaran saya cabut tanpa short notice dari kantor sebelumnya. Saya diterima bekerja tanpa alasan kuat kecuali beliau percaya pada saya. Dan itu bikin terharu, sungguh.

Setiap mengingat bagaimana beliau membela saya saat yang lain mempertanyakan kredibilitas saya, pada setiap gugat manager mengapa saya naik jabatan sedemikian cepatnya, beliau yang mempertaruhkan kredibilitasnya saat Presdir meminta saya memegang proyek senior manager and share holder annual presentation. Proyek yang di tahun tahun sebelumnya dipegang oleh expatriate senior manger yang telah bekerja 15 tahun lebih sebagai tangan kanan Presdir. Yang kemudian diserahkan kepada saya (dengan waswas yang tinggi, mungkin), anak kampung yang norak melihat MRT, berbahasa Inggris seadanya dan bahkan tidak sekalipun mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari SMA. Tanpa sertifikat desain, PR, public communication, apapun.

Saya tidak memiliki banyak pilihan kecuali bersyukur dan melesat lebih jauh dari ini. I already detached every string here in Sampit. I cut my friends, my family, love of my life. I already found myself all alone every time I got back home anyway. It’s been two years and I think I’m ready, I’m prepared physically and most important mentally to loose the string and leave. Tapi ya kenapa ya rasanya susya sekali hahaha.

Sampit, 11 September 2016

Saya semestinya bahagia sekali sekarang, setelah semua pujian dan pengakuan itu.

Tapi ya kok ya tep aja rasanya kek ada yang salah.

Before Sunrise’s After Dark Odyssey

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9c/43/cb/9c43cb3c65cd73b6d8b7633955fbfe12.jpg

This words comes out from Korogi, pages 228. Not a main character but steal my attention vaguely.

Menamatkan After Dark dalam buruan deadline. So there’s these three presentation I have to prepare for General Manager, Production Director up to President Director level. The work wasn’t that much, but with 3 weeks of prep and endless revision from those guys, I felt a bit worn out. Dan mungkin berakibat pada penelaahan berlebih pada karya Tuan Murakami yang satu ini.

Halaman pertama dibuka dengan sebuah scene your favorite young-rebelious wallflower of all time. Mari Asai tengah membaca buku sambil minum kopi pada larut malam di sebuah pojokan kedai 24 jam. Mengenakan worn out jeans jacket, faded colored yellow sneaker and wasn’t talked so much when this guy, Takahashi Tetsuya sat down in front of her and started the conversation.

And that’s it. Buku berjalan dalam durasi satu malam penuh dengan keduanya sebagai magnitude cerita. Little bit tasted like Before Sunrise, for me. A dark, dark Before Sunrise without sex scene at all hahaha. Keduanya lantas bercerita, dan bercerita, dan bercerita tentang banyak kejadian. Mari kemudian terlibat dengan seorang pekerja seks yang dipukuli pada sebuah Love Hotel. Jika muncul dugaan Mari akan bermasalah dengan gangster China dan cerita berubah menjadi action, maka kamu kudu kecewa. Murakami selalu demikian adanya. Something big, out of ordinary happende but it pretty much was it. Shit happens and that’s it.

244 halaman berlanjut dengan fragmen fragmen antara Tetsuya – Mari, Eri (kakak Mari) dan the eagle eyes, serta sedikit sempilan kejadian di Alphaville (love hotel) dengan porsi yang cukup menyenangkan. Cerita berakhir dengan khas Murakami.

KENTANG.

Buku ini menjadi buku ke-11 dari 19 buku untuk proyek Marathon Murakami yang saya mulai 4 bulan silam. Sepuluh kali dikentangin Murakami tidak kunjung membuat saya jera untuk membaca dan membaca lagi. He has this weird magnetic field with his words, meski lamban dan membosankan, meski senantiasa berakhir dengan kentang, saya toh tidak berhenti melahap halaman demi halaman hingga tamat dengan helaan nafas dalam dan perasaan sedih tanpa penjelasan yang menjadi jadi. Buku yang tepat bagi penggemar ide soal nihilisme.

Hari ini saya call-off from work, meminta izin kepada HR dengan alasan “Aku rada susah fokus ngerjain deadline dengan semua distraksi di kantor mbak. Mbak tau lah anak kreatif dan kebutuhannya terhadap konsentrasi ngerjain beginian” menyusul rencana untuk berhenti menjadikan kebohongan sebagai sebuah kebiasaan. And she nodded, understanding my reason fully and let me go home with a promise than this 198 pages of presentation will be done before the deadline.

Walaupun kemudian di kos saya dengan semena menad tidur dari jam 10 pagi sampai 5 sore, sih :))) bangun tidur untuk memenuhi janji meeting dengan camera guy for my 14th event membuat saya berfikir soal ini sepanjang jalan:

Kenapa semakin banyak tidur yang saya lakoni, semakin mengerikan bayangan yang saya temui saat terjaga? These bad dreams just too much to handle.

Maka begitulah, dalam keadaan super terjaga berkat double shoot ristretto, semangat dan optimisme yang meluap luap di malam hari seperti ini selalu saya pertanyakan mengapa ia tidak muncul di siang hari, saat saat saya sungguh membutuhkan mereka :)) I’m just a night owl afterall. Inevitable condition.

Sampit 09 Agustus 2016,

Whoa, I talked to myself more rapidly now.

100 Buku untuk 2016 #Juni&Juli

https://i0.wp.com/slodive.com/wp-content/uploads/2013/04/quotes-about-losing-a-loved-one/haruki-murakami-quote.jpg

Nampaknya saya harus meredam optimisme soal berhasil membaca 100 buku di tahun ini. Dalam dua bulan terakhir saya cuma berhasil membaca 9 buku, itupun rasanya betul betul penuh perjuangan. Kesulitan utamanya tentu saja, waktu. Sepanjang Juli saya berkutat dengan drama di kantor soal ingin ditarik kantor Jakarta namun ditahan kantor Regional (Sampit), jalan tengah luar biasa yang diambil managemen:

Saya mengerjakan urusan kantor pusat dan kantor regional tanpa penambahan gaji. Meh. Korporat dan apa yang mereka lakukan terhadap karyawannya. Tapi sudahlah, saya tidak sedang dalam state marah atau kecewa atau apapun. Saya menyenangi pekerjaan ini, bisa jalan jalan sesekali dan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, cukuplah. Dan bisa beli buku!

Fokus saya bulan ini masih pada 19 buku Haruki Murakami yang kini 7 di antaranya telah terbaca. Sedikit pembenaran atas minimnya jumlah buku yang dibaca dua bulan ini adalah saya mulai tertarik pada buku berbahasa Inggris. Hal ini lantaran saat membaca terjemahan Indonesianya Murakami yang Dunia Kafka, saya agak terseok mengikuti alurnya dan beberapa frase membuat saya mengernyit tidak suka. Karenanya untuk buku dengan penulis bukan bahasa Inggris (Murakami, Milan Kundera, Andrey Kurkov) saya mencari first hand translation dan ketemunya memang bahasa Inggris.

Bukan karena sok baca buku bahasa Inggris biar keren.

Selain itu, berkurangnya buku yang dibaca adalah lantaran tebalnya ampun ampunan hahaha.

Buku yang telah dibaca bulan Juni dan Juli:

  1. What We Talk About When We Talk About Love – Raymond Carver
  2. And the Mountains Echoed – Khaled Hosseini
  3. Dance Dance Dance – Haruki Murakami (I finished the book in Singapore, in the middle of packed MRT hahaha)
  4. Death and the Penguin – Andrey Karkov
  5. The Wind-Up Bird Chronicle – Haruki Murakami
  6. Ignorance – Milan Kundera
  7. Hear the Wind Sing – Haruki Murakami
  8. Pinball – Haruki Murakami
  9. What I Talk About When I Talk About Running – Haruki Murakami

 

 

Sampit, 2 Agustus 2016

Tidak sampai sepuluh buku untuk dua bulan. Akusedi 😦

The Lonely Mr. Wind-Up Bird

Home again, I sat on the kitchen table as usual, drinking a beer and listening to music on the radio. It then occurred to me that I wanted to talk to someone – about the weather, about political stupidity; it didn’t matter what. I just wanted to talk to somebody, but I couldn’t think of anyone, no one person I could talk to.

I didn’t even have a cat.

Haruki Murakami, The Wind-Up Bird Chronicle page 371

Sampit, 18 Juli 2016

Wild Child – Reno

 

Short Trip to Singapore

So I just finished my one week of first time being overseas and it feels awesome! Using Airbnb for the very first time and had this two nice guys as the host. Singapore was great, I got plenty of time doing tourist cliche from Merlion to Haji Lane to Marina Bay Sands. I left Sentosa for next trip (yea you heard me, next time I’ll go back to Singapore, Nani and her attachment to comfy places) and can’t wait for the time to come hihihi.

It started at June 30 when I took this amazing 3 hours drive from Sampit to Palangkaraya (usually it takes 4-4,5 hours drive) and I think my driver has some anger management issues. Waited almost for 4 hours in the airport and I finally made it to Soetta and in a rush catching up Lion’s flight to Changi Airport from another terminal.

Touched down Singapore at 11pm yay! rushed up to the apartment and snoring like a log.

IMG_1927

Using Airbnb is FUN!

Thanks to my high capability on making plan, I was bought the ticket minus 20 hours before flight and OF COURSE it robs me a fortune. Has originally planning a trip to Vietnam and was cancelled so I go to Singapore instead since the plane ticket to Vietnam raised almost 500 percent since it’s original price. Whoa.

The next morning when I woke up I found the apartment was empty. My two hosts already left to work. I don’t know if it’s only applied to their workplace but as an Engineer the would go at 6.15am (which in there is considered as dawn) and going back home in 8pm. What a life to have, huh? But I think it’s all worth it, a chance to living abroad and such.

And jalan jalannya dimulai!

Day 1 I was struggled to learn the MRT system, finally figured out in minutes 135 and I’m ready to go to anywhere. From the apartment to nearest MRT station was only take 15 minutes of walk. I highly recommended these fellas apartment since it’s near to everywhere. Rochete Mall, Food Hawker, Supermarket, MRT Station not to mention bus Station. If you’re using Airbnb for your Singapore trip, just hit the sack around Dover Rise 8 with an account name Rizki Ramadhani and you’ll greeted and treated nice and warm from the owner.

I’m going to Marina Bay Sands and doing the most cliche tourist thing: Take a picture with Merlion Statue. Then I go to Bugis Strees, known for cheap stuff for your not-so-close workmate or friend who annoyingly says “Mana oleh olehnya”. I bought some chocolates ($10 for 3 box of quite large choco with HUGE Merlion Statue pic on it. Yay) and some t-shirts with I Love SNG, tote bag and some clothes for me.

Hit the Raffles Station that brought us back to Bueno Vista and call off the night. What a tiring day I just had. BUT IT WAS FUN! YAY!

Day 2

Today I hit it hard, was planned to go to Garden by the Bay and spends the whole evening exploring that gigantic area. There’s many different tourist attraction but me and my soggy legs can’t make any further walk. Before that, in the noon I go to Haji Lane and checked how hipster this area was. And I almost compare it with Seminyak Bali, everything is overpriced, lot’s of Europe/American tourist who has higher currency rate than Singapore so spending $17 for a teeny tiny keychain wasn’t an issue at all. I drink a beer in and had lunch there, make a quick glance at Ghibli Museum Artist Art Exhibition and continues from Bugis station to Raffles.

Day 3

I was planned the whole day would be for Sentosa Island and I’ll go to Universal Studio trying all the rides in there. It was Sunday, so the night before I had an awesome chat and Netflix moment with my hosts. Then I found out myself woke up at.. 2pm. YHAAAA.

So I cancelled the Universal Studio and save it for later. My legs start to kill me, geez I really need to start to work out hahaha. Hit the lunch at nearby hawker, goes to Starbucks and have a dinner at mall. A good day to rest, actually.

Day 4

Leaving early to Changi for an early flight to Jakarta.

One thing I learned from Singapore is: you could walk with your green head and all you heard is “Hey, cool hair”. You could pull your most translucent pair of tank top and nobody cares. As long you’re not littering on the street or smoke in forbidden area. Which is great, the citizen discipline on those two things are amazing. Maybe built by a Subhanallah fine, once you caught smoking in forbidden area they would fine you for 500 $ and the government doesn’t encourage the citizen to smoke. Compared to Indonesia, yhaaa… udahlah. Singapore was great, I get two new friends and laugh along so many people in Meowi Cafe. Definitely worth to come back for.

Sampit, 6 Juni 2016

Good vacation is goooood :))

100 Buku Untuk 2016 #Mei

Untitled

My favorite spot in kosan

Satu yang saya agak sesalkan bulan ini adalah: saya menyadari kalau Periplus ada onlinenya. Selama ini proses membeli buku selalu saya lakukan bersama mas mas terpercaya di Jogja, yang dengan jiwa besar saya rekuwes carikan berjudul judul buku bukan terbitan baru dan ketemu meski kudu menunggu berminggu minggu. Semoga di Sampit tidak dibangun toko buku sebelum saya kaya raya hahaha.

Di sela kubangan airmata lantaran habis dirampok Periplus Online (ya abisnya gimana, wishlist buku yang diinginkan dari enam-tujuh tahun silam semuanya ada begitu) saya bertekad untuk tidak membeli buku lagi sampai empat bulan ke depan. Kecuali ada diskon. Kecuali jika SGA rilis buku baru.

Buku buku yang telah dibaca di bulan Mei:

  1. Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage – Haruki Murakami
  2. Hikayat Siti Mariah – Haji Mukti
  3. Tidak Ada New York Hari Ini – Aan Mansyur
  4. Kumpulan Budak Setan – Kumcer oleh Eka Kurniawan, Ugaran Prasad dan Intan Paramaditha
  5. This Book Loves You – PewDiePie
  6. Dunia Kafka – Haruki Murakami
  7. The Strange Library – Haruki Murakami
  8. Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi – Eka Kurniawan
  9. Kukila – Aan Mansyur
  10. Melihat Api Bekerja – Aan Mansyur

Sepulangnya dari Bali dalam rangka menyaksikan pagelaran Ari Reda sekaligus mencari mood bagus untuk menamatkan 500-an halaman Dunia Kafka (yang sejak bulan Februari dimulai tapi mentok di halaman 77 gara gara ga tahan dengan keanehan keanehan di dalamnya), saya menargetkan Marquez – One Hundred Years of Solitude selesai sebelum akhir bulan. Namun nampaknya saya butuh liburan panjang lagi untuk membangun mood membaca tragedi ini. #Alasan

Catatan Acak :

Juni adalah bulan yang menurut Sapardji paling tabah, arif dan bijak. Juni adalah bulan ke enam di penanggalan Masehi dan enam hari lagi Ramadhan. Kalau alasan Kafka ngewe sama Nona Saeki dan Sakura karena ramalan bapaknya, rasanya kok alsannya tipis banget. Descendants of the Sun udah tamat setelah 19 jam di akhir pekan habis buat maraton serial ini. Akhirnya ketemu buku Raymond Carver. Beli kompor listrik dan crossed finger buat bayar listrik kosan bulan ini. Akhirnya kosan bebas nyamuk setelah seminggu berkutat dengan Mosquitos Reduction Program. Nemu bedsheet 100 persen cotton dan enak banget di Hypermart diskonan 20 persen. Sebulan ini telat ngantor 4 kali dan semuanya di hari Kamis, wow. Diwawancara Kantor Berita Jerman soal PT. Meranti Mustika Plywood. Ke Bali buat nonton Ari Reda 14 – 18 Mei dan makan omelette Smorgas sampe bosen. Membatalkan tawaran buat pindah ke kantor Jakarta dan jadi Communication Executive karena di Sampit tekanan kerjanya ga seberapa dan duitnya lebih banyak dan Naninya ga mau jadi penduduk Danau Sunter. Tab jadi sering mati mati, pengen cek masalahnya di RAM atau gara gara kebanting. Dikasih tenggat seminggu buat ngerjain presentasi yang udah dikerjakan dari tahun lalu. Pengen ke Helsinki tapi belum ada tanda tanda di Sampit mau hujan duit.

Sampit, 30 Mei 2016

Buset udah Juni aja.

Hikayat Siti Mariah, Perjalanan Nostalgik Abad Delapanbelas

WhatsApp-Image-20160512Saya selalu yakin kalau saya sebenarnya orang tua yang terjebak di tubuh gadis belia hahaha. Saya begitu bersemangat saat membaca Banda Neira beberapa bulan silam dan baru baru ini menamatkan Hikayat Siti Mariah tulisan Haji Mukhti. Saya memiliki ketertarikan dan penalaran berlebih terhadap buku buku berlatar waktu bahari.

Membaca tiap tiap lembar buku setebal 402 halaman ini memunculkan ingatan ingatan sedemikian jelas saya sampai seram sendiri. Seperti seolah olah saya tau seperti apa bentuk pabrik tebu Sokaraja tempat Joyopranoto dan Henry Dam bekerja. Seperti apa wujud rumah mandor dan desa desa yang membentang di sepanjang Jawa Tengah saat itu.

Ini semua tidak lain lantaran imajinasi yang berlebihan saja, saya rasa.

Eniwei Hikayat Siti Mariah adalah buku/hikayat yang digambarkan secara detil dan terlalu banyak drama hingga saya agak skeptis soal keotentikan sejarah buku ini (konon disebut sebagai kisah nyata) dan akhirnya memilih untuk menikmatinya seperti buku buku fiksi lainnya saja.

Kehadiran Pramoedya Ananta Toer selaku editor dan penerbit melalui Hasta Mitra adalah alasan mengapa saya begitu “memburu” buku ini. Awalnya setiap kang buku langganan bilang buku itu sulit dicari, sayapun beralih ke situs penjualan online dan menemukan Hikayat Siti Mariah yang bukan terbitan Hasta Mitra mencapai 750 rebu!

Berkat niat kuat untuk tidak impulsif dan seketika memesan, saya biarkan keinginan membaca buku ini mengendap hingga sebulan lamanya dan akhirnya tokopedia memberikan suggestion buku ini dengan harga cuma 55 ribu. Bekas memang, dan si penjual segera menjadi teman diskusi saya atas sastra Indonesia lama, senangs!

Hikayat Siti Mariah adalah kisah hidup seorang anak hasil hubungan terlarang antara kontrolir tebu Elout van Hogerveldt terhadap Sarinem, seorang buruh pabrik. Sarinem yang hamil dinikahkan dengan petani miskin yang kemudian berniat membunuh bayi perempuan (yang semula bernama Urip) lantaran menghalangi Sarinem untuk bekerja. Urip lantas urung dibunuh dan dipungut oleh Joyopranoto mandor pabrik gula lantas dipelihara di lingkungan pabrik gula Sokaraja dan berubah namanya menjadi Siti Mariah.

WhatsApp-Image-20160512-1Sisanya adalah kelindan drama serba-rumit seperti percintaan Siti Mariah dan Henry Dam orang Belanda yang tidak direstui lantaran perbedaan agama, dijadikannya Siti Mariah sebagai Nyai, Sarinem yang akhirnya bertemu kembali dengan anaknya, Lucy anak pemilik pabrik tebu yang mencintai Sondari yang mencintai Siti Mariah dan seterusnya dan seterusnya. Konflik konflik standar jaman penjajahan.

Semula, jujur saja, saya curiga Haji Mukti adalah tokoh jelmaan Pramoedya Anata Toer sendiri. Gaya penulisan dan pemilihan kata di buku ini sangatlah Pram sekali. Dan jika ditilik dari sejarah buku ini, ia memiliki kisah pembredelan panjang karena melakukan ekspos atas tanam paksa di era Belanda, serupa dengan Gadis Pantai yang juga dibredel kala itu. Mengapa orde baru gemar sekali menutupi sejarah ya, bang?

Mungkin lantaran saya terlalu banyak membaca Pram dalam waktu yang serba berdekatan, meski buku ini membikin hati senang lantaran akhirnya berada di genggaman, saya tidak bisa menutupi perasaan meh saat membuka lembar terakhir buku ini. It tasted just like another Pramoedya book’s. Bukan berarti jelek, saya cuman lagi bosen aja hihi.

WhatsApp-Image-20160512-2

I’m obsessed with this unamused wolf hahaha

Sampit, 12 Mei 2016

Naninya mau nonton AriReda! KYAAAAAAA!

100 Buku Untuk 2016 #April

Bulan ini saya agak sedikit off, hasilnya sejumlah entry mendayu memenuhi blog ini sebagai produk kebaperan dalam beberapa minggu terakhir. Awal bulan ini saya disibukkan dengan haul (peringatan tahun kematian) tahun kedua kematian Ibu. Ditambah dengan petualangan mencari kos baru (dua bulan di rumah Abah membuat saya sadar bahwa saya memang sangat merindukan hidup secara soliter hahaha) praktis waktu untuk membaca berkurang drastis 😦

IMG_0607.JPGBulan April adalah perayaan atas temuan terhadap Eka Kurniawan. Bergegas memesan lima bukunya pada kang buku langganan yang lantas dibalas dengan “Cieee ada yang baru jatuh cinta sama Eka nih” hahaha. Nyatanya iya! saya jatuh cinta pada Eka Kurniawan dan buku bukunya yang penuh dendam, kepahitan dan amarah yang meruap di tiap tiap halaman. Biasa, konektivitas. Wkwkwkwk.

Buku yang telah dibaca di bulan April:

  1. Cantik Itu Luka – Eka Kurniawan
  2. Lelaki Harimau – Eka Kurniawan
  3. Corat Coret di Toilet – Eka Kurniawan
  4. Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas – Eka Kurniawan
  5. O – Eka Kurniawan
  6. Midah si Manis Bergigi Emas – Pramoedya Ananta Toer
  7. Larasati – Pramoedya Ananta Toer
  8. The Little Prince  – Antoine de Saint-Exupéry
  9. Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai – Emha Ainun Nadjib
  10. Wiji Thukul Teka Teki Orang Hilang – Tim Buku Tempo
  11. Cyanide & Happiness – Kris, Rob, Matt & Dave

Yang terakhir ga layak masuk kategori buku yang telah dibaca sih, mengingat itu komik hahaha. Senang bisa kembali ke angka belasan dalam sebulan. Empat bulan penuh menekankan untuk membaca buku dengan lahap menghasilkan efek yang menyenangkan. Semakin ke sini saya semakin terbiasa untuk membawa buku ke mana mana. Menyicil membacanya pada saat antri belanja bulanan di Hypermart, menunggu travel, sambil makan saat istirahat siang bahkan menemani ritual pup tiap pagi.

Efek menyenangkan lainnya adalah kepala saya selalu occupied sehingga tidak ada ruang buat merenung soal what could and what should have been done. Ada banyaaaaaaaakk sekali yang saya ingin ubah di masa silam dan pikiran pikiran soal itu yang sering membawa saya dalam titih entah itu. Now, in most day I made it (thanks to Serenity Prayer and EFT Method), some other day -in a teeny tiny small amount- I fell.

Tapi gapapa, prosesnyaaaaa.

Sampit, 2 Mei 2016

Setelah ini, proyek diet dimulai kembali :)))