Category Archives: Random Thoughts

100 Buku Untuk 2016 #Februari

Januari kemarin saya menulis entry soal kepinginan membaca 100 buku di sepanjang tahun ini. Rencananya akan mengupdate buku buku yang telah dibaca setiap akhir bulan agar ter-track down sampai penghujung tahun. Tidak semua buku yang dibaca akan dijadikan review di web ini lantaran tidak semua buku yang saya baca semenarik itu. Kalo mau cek akun goodreads saya boleh juga. Siapa tau naksir.

.

.

.

Sama bukunya.

So here we go. List buku yang sudah dibaca di bulan Februari:

  1. Si Parasit Lajang – Ayu Utami
  2. Norwegian Woods – Haruki Murakami
  3. Banda Neira – Mayon Soetrisno
  4. Penembak Misterius – Seno Gumira Ajidharma
  5. Lolita – Vladimir Nabokov
  6. The Catcher in The Rye – JD Salinger
  7. Seks dan Revolusi – Jean-Paul Sartre
  8. Adultry – Paulo Coelho
  9. Ugly – Constance Briscoe
  10. Orang Orang yang Berlawan – Wilson
  11. Melipat Jarak – Sapardji Djoko Damono

Yang menjadi highlight adalah Banda Neira dan the Catcher in the Rye yang sempat saya review di web ini. Dua puluh tiga buku dalam kurun 2 bulan rasanya ga jelek jelek banget kaaan hahaha.

Akan lebih selow di bulan Maret mengingat pekerjaan mulai memasuki musim audit, blah.

Sampit, 29 Februari 2016

Dalam pembelajaran soal the art of being alone 🙂

Bermain Cita Cita

“Mari bermain cita cita”

Seorang guru berseru pada Selasa pagi

Di sebuah sekolah kumuh,

Dengan murid murid berseragam lusuh,

Dengan dana remah remah anggaran daerah

Puluhan bocah empat SD, bergemuruh, beberapa bertepuk tangan

Satu per satu ditanyai ingin menjadi apa

Berloncatan senang, masing masing punya jawaban

Dokter-astronot-artis-hingga presiden dilontarkan

Ada yang memukul mukul meja,

Tak sabar menunggu cita citanya terpapar

Amin diam,

Tak bergeming kala sang guru mengetuk ngetukkan ujung sepatu, menunggu

“Saya tak punya cita cita Pak, lihat nanti saja”

Gumam menggumam, tawa cela memburai seketika

Ruang kelas gaduh, Amin dihukum berdiri di depan kelas

Karena tak punya cita cita

Puluhan tahun lewat, tak ada satupun kawan kelasnya yang menjadi dokter-astronot-artis

Lebih lebih presiden

Satu satu mati, ada yang bolong kepalanya ditembak, gara gara bertatto

Ada yang mati kesetrum, kala menjaja asongan di atas atap kereta

Ada yang mati beranak, semata tak mampu ikut KB

Tak pula ada yang menjadi dokter bertatto

Astronot kemudi kereta

Atau bahkan artis dengan anak kelewat banyak

Amin, mengais sisa sisa sampah rumah mewah

Sekolahnya tak tuntas, SD-nya diratakan di tahun ke lima

Deru menderu, bisik membisik sampaikan padanya

Kawannya yang ingin jadi presiden mati

Ketangkapan warga sekampung mencuri televisi

Kais mengais, sampah yang bisa dimakan

Gumam pelan Amin tak tertangkap udara

“Hidup kok kebanyakan cita cita..”

Ventriloquist

https://i0.wp.com/sobadsogood.com/uploads/media/2014/03/09/Creepy-Vintage-Ventriloquist-Dummies-1.jpg

Serem? Iya. Kek mantan.

Ventriloquist itu istilah untuk pemain boneka dengan suara perut. Saya pertama kali mendengar istilah ini dari film Dead Silence, tentang hantu Mary Shaw, seorang ventriloquist yang terobsesi untuk membuat boneka yang bernyawa.

Postingan kali ini, saya tiba tiba terfikir tentang siapa yang ‘menggerakkan’ kita. Yang berbicara melalui kita, yang membut kita tertawa, menangis, bersuara, segalanya. Teori sains akan mengatakan semua itu merupakan reaksi neurotik yang kompleks pada otak besar yang memerintahkan syaraf untuk menggerakkan bibir, mengeluarkan suara, tertawa, semuanya.

Teori teologinya lebih kompleks lagi. Ada Tuhan dibalik semua kejadian. Manusia tertawa, menangis, bersuara, segalanya berkat ‘lillahi ta’ala’, kehendak Tuhan yang maha tinggi. Atas restu dan keinginan-Nya manusia berjalan, berfikir, berniat, berdetak dll.

Apakah juga Tuhan yang menggerakkan setiap perilaku cela manusia? Atau adakah konspirasi setan-malaikat dalam setiap tindakan yang manusia ambil?

Sebagai seorang realis-relatif, maka saya percaya pada teori sains yang sudah disepakati sebagai ke-be-nar-an dalam mengambil simpulan terhadap apapun (termasuk di dalamnya teori teori filsafat). Bahwa yang menggerakkan manusia adalah self-conscious, pertimbangan pribadi, dan reaksi tubuh atas perintah yang diberikan syaraf syaraf neurotik dari otak.

Bahwa tidak ada konspirasi setan-malaikat serta pihak ketiga dalam wujud yang menggerakkan manusia untuk berfikir, bernafas, mengunyah, berjalan, berbuat apapun. Sebagian besar merupakan tindakan natural yang terjadi secara begitu saja. Neither lantaran tubuh memang terbiasa melakukannya atau memang harus dilakukan demi stabilisasi organ tubuh (baca: denyut nadi, bernafas dan lain sebagainya)

Fokus saya kali ini, adalah apa yang menggerakkan pikiran manusia. Sebagai pusat gerak, tubuh harus diperintah oleh pikirannya. Mencuri, membunuh, tindakan tindakan yang disepakati secara sosial sebagai ‘perbuatan tercela’ itu tentu telah mendapat stimulasi dari pikiran untuk mencuri, membunuh dan sebagainya, oleh pikiran manusia.

Apa betul, tindakan jahat manusia digerakkan oleh setan? Sementara perbuatan baik digerakkan oleh malaikat? Saya, memilih untuk belum mempercayainya. Pihak ketiga yang menggerakkan manusia secara pasif untuk berfikir dan mencerna segala sesuatu itu berbentuk kasatmata. Pola pikir manusia dipengaruhi oleh lingkungan, latar pendidikan, asupan pengetahuan dan tentu saja: pengalaman hidup.

Keputusan yang diambil seseorang yang tidak pernah tau bahwa karbondioksida itu zat berbahaya tentu berbeda dengan keputusan seseorang yang mengetahui bahwa zat karsinogenik dari karbondioksida bisa memicu kanker dan flek paru paru saat keduanya sama sama dihadapkan pada masalah serupa: menyetujui atau tidak menyetujui pembangunan pabrik pengolahan Crude Palm Oil di dekat rumahnya, dengan iming iming kompensasi yang cukup besar.

Setidaknya itu merupakan contoh bahwa campur tangan pihak ketiga yang kasatmata (dalam hal ini pengetahuan) bisa membuat perbedaan dalam tindakan manusia. Simpulannya, ventriloquist saya adalah akal, nurani, asupan pengetahuan dan keinginan untuk terus berkembang.

So, who/what is your ventriloquist?

Ateis Puritan A La Mihardja

Disclaimer: Penulis adalah pembaca amatir, pengulas amatir, dan pengamat sastra amatir. Satu satunya yang profesional dari Penulis adalah makan rendang tanpa banyak mengunyah.

Yang saya kagumi saat membaca roman ini ialah kepandaian penulisnya dalam menjalin kata hingga pemaparan mengenai komunisme menjadi mudah dicerna. Tokoh bernama Hasan nampaknya sengaja dibuat agar berkarakter “mudah” dan gamang. Kiranya dengan sifat demikian, penggunaan sudut pandang orang pertama tunggal tetap mampu mengcover dua ideologi serba bertentangan. Komunisme dan kapitalisme, sosialisme dan anarkisme, atheis dan theis, modern dan mistik.

Maka Hasan, menceritakan hidupnya dengan alur yang runut. Tentang jiwanya yang semula kukuh perlahan menjadi goyang dan akhirnya runtuh (ditandai saat ia pulang ke Panyeredan dan menyatakan bahwa ia ingin mengambil jalannya sendiri) lalu menjadi kukuh kembali saat dirinya menjemput maut.

Tidak berimbangnya antara tokoh yang menganut paham mistik, tradisionalis dan yang menjunjung modernisme, komunis dan atheis (bahkan muncul Anwar, sang anarkhis) membuat roman ini terkesan ingin mempropagandakan paham komunisme. Bagaimana tidak, seorang Hasan yang mudah berubah pendiriannya digempur oleh Rusli, Kartini, Anwar dan sederet kawan kawan politiknya. Ditambah dengan tumbuhnya cinta dari Hasan kepada Kartini. Satu satunya yang menguatkan teori Hasan hanyalah ayah dan ibunya. Itupun tertinggal jauh di Panyeredan, di pikirannya.

Tapi kesan tersebut hanya bertahan hingga pertengahan buku. Sebab dengan hadirnya Anwar, seniman anarkhis yang nampaknya sengaja betul menjadi pembuat onar, menyeimbangkan sisi Hasan kepada ideologi komunis-atheis milik Rusli yang tampak begitu sempurna, utopis dan merayu rayu. Anwar menjunjung anarki dengan Bakunin sebagai gurunya. Ia tidak mengenal konsep ‘Lu punya gua punya’ dan cenderung barbar. Tidak sedikit ia menghina agama dan tuhan, sehingga kesal Hasan dibuatnya. Seolah ingin menegaskan bahwa tidak semua penganut paham tersebut menjadi seorang ‘sukses’ seperti Rusli. Anwar justru menjadi kuda liar hilang kendali, tak bersopan santun dan meletup letu, pemadat serta senantiasa tak beruang.

Cinta Hasan yang demikian kuat kepada Kartini-lah yang sebenarnya mengubah haluan hidupnya sedemikian rupa. Layaknya teori teori adaptasi, maka Hasan mencoba begitu keras agar terterima di dunia Kartini. Dunia yang serba modern, dunia di manaGone With the Wind  dan Bing Crosby menjadi penting.  “Terasa sekali betapa besarnya perubahanku dibanding dulu. Dulu artinya empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan “pendapat umum”, terutama dengan pendapat para ahli ulama. Aku selalu berhati – hati jangan sampai menjadi noda dalam pendangan umum, alias “klaim alim – ulama” itu. Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini. ( Atheis, hal. 108)

Kemudian, sekali lagi Achdiat memberikan twist berupa pernyataan Anwar ketika Hasan tengah sembahyang saat pulang ke rumah orangtuanya. “…itulah yang kunamakan sandiwara dengan diri sendiri. Mengelabui mata sendiri… Itulah yang kubenci, sebab dengan begitu hilanglah kepribadian kita, persoonlijkheid kita.” (Atheis, hal. 145)

Sebab Anwar, Hasan merenung kembali. Sebab Anwar yang kemudian menggoda istrinya, di tahun tahun selepas pernikahannya dengan Kartini, Hasan menjauh dari Rusli dan kawan kawannya. Hidupnya tak jauh dari ke kantor, pulang dan mendapati isterinya tak di rumah, dan batuk batuk hebat. Di halaman halaman akhir terlihat betul keinsyafan Hasan dan penyakitnya yang mengganas dianggapnya sebagai siksa dunia.

Romanpun berakhir gamang. Tanpa ada batas jelas apakah hasan kembali ke islam atau menjadi atheis. Achdiatpun mendaulat tokoh tanpa nama yang menjadi editor untuk menerbitkan naskah autobiografi Hasan. Tokoh ini pula yang seolah menjadi pendamai atas dua ideologi besar yang merongrong pikiran Hasan. Jika Rusli hadir bersama Karl Marx, Hasan yang semula berpegang teguh pada Muhammad, maka Tokoh Ini membawakan Freud kepadanya. Tidak hanya Freud, namun segala perdamaian perdamaian pikiran. “Sesungguhnya, saudara, kita dilahirkan ke dunia ini dengan satu tugas yang mahapenting, yaitu ‘hidup’..” ( Atheis, hal. 202)

Sebagai penyeimbang, tugas tokoh tersebut tidak tunai sepenuhnya. Sebab pada detik sebelum Hasan ditembak, Hasan masih dikuasai amarah untuk membunuh. Dalam lubang perlindunganpun, ia banyak tepekur dan menangis. Sebab takut siksa neraka meski porsi rasa bersalahnya kepada orangtuanya -terutama ayahnya yang baru saja meninggal- demikian besar.

Hingga tuntas halaman terakhir, saya tidak banyak mengeluh. Kompleksitas Hasan sangat memukau saya. Sebagai yang baru membaca sedikit dan mendapat secuil pemahaman soal ideologi ideologi seperti komunisme, atheisme dan anarkisme serta filsafat, tentu saya kagum dengan kepiawaan Achdiat meramu semuanya dalam satu buku. Lebih lebih, dalam satu karakter bernama Hasan.

Berlatar di tahun 1940an, novel ini sedikitpun tidak menyentil isu kemerdekaan. Hanya sedikit bagian yang mengindikasikan Rusli terlibat dalam gerakan politik berbau kiri. Ditambah dengan sikap Anwar yang begitu membenci penjajah disebabkan oleh paham anarkis yang dijunjungnya.

Seolah ingin menjabarkan betapa berbahayanya pikiran manusia hingga yang telah kukuh memegang satu prinsip bisa luluh juga jika digempur prinsip baru dan tentu saja, cinta. Meski seolah ini adalah kisah yang menjadikan ide atheis sebagai garis utama, namun saya memandangnya sebagai kisah cinta Hasan dan Kartini yang dibalut teori teori. Entahlah, sekurang kurangnya hanya itu yang saya mampu simpulkan.

Membaca kembali Atheis setelah nyaris tujuh tahun membuat buku ini menjadi pengobat kangen yang cukup manjur. Membelinya dan membaca pelan pelan mampu menjabarkan banyak bagian yang tidak saya mengerti kala itu. Maklum saja, waktu itu saya baru kelas tiga SMP, tak tau soal komunisme, atheisme dan filsafat.Kisahnya begitu melekat hingga ke mana mana saya sebut jikalau Atheis karya Achdiat K Mihardja adalah novel favorit saya.

Sebuah novel, meskipun fiksi adanya, senantiasa menggambarkan suatu kondisi masyarakat tertentu. Atheis yang diterbitkan di tahun 1949 inipun membawakan gambaran jelas kondisi saat itu, Bandung khususnya. Masyarakat mengalami gelombang kiri dengan munculnya Rusli, bung Parta dan kawan kawan politiknya. Pemahaman kiri seolah meluas hingga (dari?) Jakarta sebab Anwarpun demikian.

Namun, kondisi masyarakat yang masih sangat lekat berhubungan dengan budaya Belanda membuat tokoh tokoh islam tidak menolah mentah segala yang di luar islam. Rukmini yang bersekolah di sekolah menengah kristen, Hasan yang mengenakan jas dan sempat bekerja di kantor milik Belanda. Meski secara pribadi Hasan menolak bioskop dan musik musik barat sebab dianggapnya tidak sesuai dengan didikan agamanya.

Sementara sekarang saat kita sudah membaur sekian lama dengan agama agama lain, budaya budaya lain, mengapa begitu sulit untuk menjadi damai atau setidaknya, bersikap seperti Hasan saat dirinya melewati lorong pelacuran; bersikap acuh dan terus berjalan sambil berdoa semoga tidak tergoda dirinya alih alih menggalang massa dan beramai ramai meruntuhkan sarang maksiat tersebut.

Nostalgiaaaa

Buku di atas merupakan cetakan ke 34 di tahun 2010. Sementara cetakan pertamanya di tahun 1949. Dari berbagai catatan di dunia maya yang mengulas buku ini, kebanyakan menyebut pekerjaan Hasan adalah juru tiket kapal. Sementara di buku yang saya beli, disebutkan bahwa Hasan adalah pegawai di kantor pemerintahan bagian pemasangan air (semacam PDAM). Di sanalah ia bertemu Rusli dan Kartini, saat Rusli ingin meminta pemasangan air di rumah barunya. Entah mana yang betul, tapi yang saya baca lebih terasa masuk akal.

Isu Ateisme yang diangkat Mihardja di buku ini dapat dikatakan masih di permukaan. Ia menjelaskan bagaimana Rusli dan pergejolakan jiwa lelaki taat beragama itu terhadap pertanyaan soal Tuhan dan Agama. Tidak dimunculkan sekat dan label apapun terhadap apa yang diyakini Rusli kemudian sebenarnya, bahkan hingga akhir hayatnya.

Meski demikian, lagi lagi mengingat tahun terbitnya buku ini, apa yang disuguhkan Mihardja sangatlah menarik sebab ia mampu menggambarkan seperti apa gejolak di masa itu. Tidak hanya di tataran sosial namun juga di tataran spirituil orang Indonesia yang baru mengenal ideologi bawaan barat tersebut (*)

Bolehkah Menjadi Jahat?

Betapa membosankannya semua dongeng jika tidak ada sosok yang disalahkan, yang menjadi masalah, yang berbuat salah. Bayangkan seperti apa rupa sinetron Indonesia jika tidak ada satupun tokoh berdandan menor dengan suara tinggi dan bermisi tunggal; merepresentasikan tujuh dosa manusia dalam sekali waktu.Jika bukan karena merasa benar, tidak akan ada manusia yang berbuat jahat.

Perasaan benar akan menimbulkan pembenaran, semacam kebenaran, namun hanya untuk konsumsi pribadi. Sebetulnya membahas soal ‘kejahatan’ itu sendiri rasanya menarik, apa yang membuat kita menyimpulkan satu kejahatan dan memberi vonis jahat kepada pelakunya. Sayangnya tulisan ini akan menjadi semakin panjang dam semakin membosankan untuk dibaca.

Kita simpulkan saja, kejahatan adalah label atas tindakan yang tidak sesuai norma (hukum, agama, adat dan susila), yang meresahkan lagi merugikan orang banyak dan pelakunya wajib menanggung konsekuensi berupa hukuman sesuai norma yang diberlakukan. Urusan menjadi jahat dan hubungannya dengan masyarakat sudah jelas, sekarang kembali ke soal pembenaran untuk berbuat jahat.

Seseorang pernah memberitau saya bahwa esensi dari hidup dan berbuat kebaikan itu ada tiga. Tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti harga diri orang lain, dan tidak merusak lingkungan. Jika satu saja terlanggar, maka itu sesungguhnya adalah kejahatan. Sebelum menengok terlalu jauh kepada pelaku kriminal, saya rasa dalam setiap langkah, manusia sadar atau tidak sudah berbuat jahat.

Manusia memiliki sub conscious, suara kecil dalam kepala yang membantu kita mempertimbangkan baik buruk sebuah tindakan. Suara ini kemudian sering muncul dalam kartun jadul berupa setan dan malaikat yang berdiri di bahu dan saling membisiki. Biasanya, sang malaikat menang.

Namun perkenalkan sisi dalam kepala dengan suara lebih lantang bernama ego. Karena kita butuh merasa lepas dari rasa bersalah, ego akan membuatkan pembenaran atas tindakan yang merugikan, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan. Dan biasanya, suara paling lantanglah yang terdengar.

ditemukan di sini

“Ah, telat dikit doang gini. Klien juga sering bikin gue nunggu, sekali kali bikin bawahan cengo di lokasi meeting gapapalah”

“Ya kan aku niatnya becanda. Dia juga pasti ngerti, kita kan temen. Lagian emang bener kok, dengan badan kaya gitu di duduk di situ bisa aja kursinya patah…”

“Sampah seupil gini ga bakal ngaruh sama banjir bandang”

Butuh waktu empat bulan bagi saya untuk berhenti mengelak dan mencari cari pembenaran atas hal jahat yang telah saya lakukan. Juli lalu saya menyakiti orang lain, mengkhianati kepercayaan, dan sebagainya dengan pergi begitu saja dari tempat saya bekerja di Jakarta.

Pembenaran pembenaran yang saya buat, alih alih menenangkan, ia justru menjadi beban. Saya terus berlindung dalam pernyataan “Tapi kan, gue ga nyaman ada di sana” seolah itu adalah hal besar yang akan mengubah Jakarta menjadi neraka jika dalam segera tidak ditemukan solusinya. Saya menyeret koper  dan melangkah ke bandara dengan ego yang besarnya melebihi diri saya sendiri. Lalu pergi, begitu saja.

Tidak ada cara lain selain memaafkan diri saya sendiri. Beberapa hal yang terjadi saya kompromikan sebagai konsekuensi atas tindakan saya dan sekarang, saya telah berdamai dengan diri sendiri. Sedang menata kembali mimpi dan merencanakannya dengan matang. Hebatnya, setelah semua yang terjadi, ternyata saya masih ingin menjadi penulis.

 

***

Lalu satu berita datang dari Bandung, tentang masjid Ahmadiyah yang dirusak FPI. Apakah Ahmadiyah telah melanggar suatu norma (hukum, agama, adat dan asusila)? jawabnya (sayang sekali) adalah iya, norma agama yang disuarakan melalui fatwa MUI bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan diluar islam. Tapi apakah Ahmadiyah merugikan orang lain, menyakiti harga diri orang lain dan merusak lingkungan?

Semua orang memiliki versi jawabannya sendiri dan saya yakin betul yang paling popular adalah ini; Ahmadiyah menyakiti harga diri umat muslim dan menginjak sakralitas nabi muhammad sebagai nabi terakhir. Tapi betulkah itu yang seluruh umat muslim rasakan atau hanya pendapat pribadi? Manusia tidak akan pernah menjadi individu yang merdeka pikirannya jika dalam memutuskan sikappun masih harus melalui approval dan persamaan visi dengan sang alpha dog.

Terlepas dari itu semua, negara ini pastilah punya regulasi hukum untuk pelanggaran norma agama. Membiarkan FPI mengambil alih proses penghukuman secara barbar dan tanpa keadilan bukanlah refleksi dari negara hukum yang konon katanya berasas demokrasi.

Jika setiap kubu, setiap individu memiliki pembenarannya sendiri atas sikap sikap jahat yang dianggap sebagai perbuatan ‘wajar’, sesungguhnya kita sudah mencapai esensi sebagai penerus nenek moyang. Menjadi manusia yang membuat dirinya dan seluruh keturunannya terusir dari surga demi memenuhi suara terlantang di dalam kepala bernama ego.

Kepala Polisi

“Pak, tolong saya dan keluarga saya Pak,”

Perempuan itu tersungkur tanpa banyak upaya.

Kepala polisi nyalang, nampaknya sedari tadi ia terantuk antuk menahan kantuk. Sebab tak banyak yang ia lakukan belakangan ini. Kecuali sesekali berpidato dan memimpin upacara. Ia berdehem di sela kumis yang dicukur tipis.

“Mau minta tolong apa, mbak?”

Perempuan yang sedari tadi menunduk kini menatap lurus ke arah kepala polisi. Wajahnya lebam, biru keunguan menggelayut di mata kanan, sementara bekas sundutan -seperti rokok- di pipi kiri yang berakhir pada jahitan di sudut bibir yang nampak masih basah. Tangisnya luruh, perempuan itu tengah menjadi bulan bulanan lelaki yang memperistrinya.

Kepala polisi berderak, seperti ingin batuk namun ditanggalkan. Sementara tangin perempuan itu kian deras hingga menggenangi sebagian teras kantor polisi. Ia tengah memikirkan jawaban paling memuaskan untuk perempuan itu. Dirinya menginginkan peradilan yang tertegak tinggi, apalagi jika menyangkut harkat martabat perempuan, perwujudan dari ibunya sendiri.

“Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka” 

Kepala polisi bergumam gumam, disimpannya kalimat itu dalam hati. Ia tau pasti prosesnya tidak akan segampang itu. Apalagi jika perempuan di depannya bersuamikan petinggi, atau setidaknya, orang kaya yang mampu menggotong pengacara ternama. Akan lama, berbelit serta bukan tidak mungkin jika justru perempuan itu yang akan masuk penjara.

“Atas tuduhan pencemaran nama baik”

Tanpa sadar kepala polisi bersuara.

“Ya, Pak?”

Kepala polisi berdehem

“Ah, bukan apa apa mbak. Begini, coba ceritakan dulu sama saya soal masalah mbak ini”

Meluncur deras kalimat kalimat mengiba dari mulut perempuan yang airmatanya kini sudah semata kaki setiap petugas polisi di kantor itu. Kepala polisi hingga harus berkali kali menegur agar sedu sedan perempuan itu tidak menutupi tutur aduan yang sedang disampaikannya.

Saat matahari kian meninggi dan airmata sudah sedengkul, tangis perempuan itu reda seiring dengan selesainya ia mengadu. Kepala polisi menghela nafas panjang untuk kemudian meminta waktu untuk berpejam dan mencarikan solusi untuknya.

 “Benar dugaanku, suaminya seorang petinggi”

Masih bersimpuh, perempuan itu bersuara

“Jadi bagaimana, Pak?”

Di sela hela nafas yang kelewat panjang, kepala polisi berkata

“Begini, mbak bisa masuk ke dalam ruangan penyidik yang ada di gedung utara, lalu nanti petugas yang ada di sana akan mencatat setiap aduan mbak secara rinci. Setelahnya, akan dilakukan pengusutan, jika terbukti bersalah, suami mbak akan dijadikan tersangka

Perempuan itu beringsut mengenakan sendalnya, sementara airmatanya menguap terpapar matahari, mengkristal layaknya garam.

“Nanti setelah istirahat makan siang”


Kepala polisi lantas terpejam, lalu menggelinding pergi.

Mediasi Lupa

Kerusuhan 2001 adalah isu kelewat sensitif hingga media media lokal berhenti melakukan pemberitaan memorial tahunan di tahun ke sebelas paska kejadian. Hal ini terlewat begitu saja. Menjadi satu dari sekian banyak sejarah berdarah yang terjadi di negara pelupa, Indonesia. Namun apa yang tersisa paska terjadinya sebuah insiden?

Trauma.

Belasan tahun lewat seusai kejadian yang menyisakan berita berita dengan suntingan sedemikian rupa meminimalisir penggunaan etnis tertentu atau kota tertentu ini, sebuah kasus pembunuhan terjadi di Pangkalanbun, Kotawaringin Barat. Kabupaten tetangga Kotawaringin Timur -Sampit- tempat insiden 2001 terjadi.

Kronologis kejadian dapat dibaca online melalui koran Borneo News di sini dan di sini. Berita Tabengan ada di sini. Saya paling sering mendapat teguran “Sudah Nan, jangan diungkit ungkit lagi” setiap bertanya kepada orang orang di sekitar maupun beberapa pejabat yang pernah terlibat insiden 2001 saat riset penulisan memorial sebelas tahun kerusuhan beberapa tahun lalu. (baca di sini)

Saya kira kita ini bangsa yang gampang lupa. Banyak kasus kekerasan terhadap nilai kemanusiaan yang terlewat begitu saja tanpa bahasan dan penyelesaian berarti. Kita bicara ribuan orang yang meninggal sebagai efek dari insiden 2001. Kita bicara puluhan ribu rumah yang hancur tanpa ganti rugi. Semuanya diminta ikhlas, semuanya diminta legowo dan menganggap insiden 2001 tak lebih dari bencana alam yang dikirimkan Tuhan sehingga setiap yang terlibat sebagai pelaku maupun korban di dalamnya tak boleh bersuara terlalu keras, sebab tak baik mengungkit ungkit musibah seolah tak bersyukur atas nikmat yang banyak diberikan di masa sekarang, kan? (referensi kesepakatan damai dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur nomor 05 tahun 2003)

Lupa saja nampaknya tak cukup menghilangkan trauma tadi. Sebuah kasus pembunuhan atas warga Mendawai dengan pelaku dari kelurahan Madurejo ditangani sedemikian ketat seolah kasus ini berpengaruh banyak pada perdamaian dunia (atau memang iya?) sementara jika kata ‘Mendawai’ dan ‘Madurejo’ dihapuskan kasus pembunuhan ini tak akan sampai membuat Bupati turun ke lapangan dan meluluhlantakkan TKP, atau Kapolda yang terbang segera untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Juga tidak akan sampai membuat puluhan tetua adat berkumpul dan menggagas ide untuk menyelesaikan kasus ini secara adat. Ia akan menjadi satu dari sekian banyak kasus pembunuhan biasa yang takkan lebih dari ungkapan belasungkawa kapolsek kecamatan setempat.

Jadi siapa bilang kita sudah lupa?

2015 Mixtape : Rambling Mind

Temuan menarik tahun ini adalah Spotify, semacam aplikasi musik yang memungkinkan kita menjelajah trilyunan lagu dan mendengarkannya secara streaming dan membuat playlist sendiri. Lantaran Indonesia masih dianggap sebagai third world country oleh developernya, jadi untuk bikin akunnya kudu pakai proxy (yang mana saya ga tau apa apa soal ini kecuali kenyataan bahwa proxy mirip dengan merk baju). Terimakasih untuk seorang kawan yang telah berbaik hati membuatkan akun rusnanianwar!
Mengikuti zinemaker favorit saya, Ilham Satrio yang konsisten tahun ke tahun membuat mixtape di bulan Desember, sayapun terpikir buat melakukan hal serupa. Didukung oleh aplikasi mahadahsyat bernama spotify tadi, here’s my 2015 mixtape: Rambling Mind.
1. Halsey – Ghost (Badlands, 2015)
https://i0.wp.com/mutemag.com/wp-content/uploads/2015/06/image8-480x330.jpgHalsey adalah Lorde, Ed Sheeran atau bahkan Justin Bieber. Penyanyi penyanyi yang menuai popularitas di usia muda berkat kuasa viral. Alasan menjadikan lagu ini sebagai lini pertama Rambling Mind mixtape adalah penyataan keras bahwa Nani kini sungguhlah sangat mainstream :)))
Setelah diarahkan Vevo ke laman youtube pribadinya, kesukaan terhadap Halsey rupanya berhenti cuma di lagu ini. Selain music videonya yang mesum menarik, suaranya mirip nona Goulding.

 

2. One Republic – I Lived (Native, 2014)
https://i0.wp.com/ecx.images-amazon.com/images/I/719--QpLjhL._SL1400_.jpgDi awal saya bilang apa? Yak, Nani kini sungguh sangat mainstream sekali. Lagu ini sedemikian catchynya hingga ia berada di urutan kedua prioritas playlist karaoke saya, tepat setelah lagu Siti Nurhaliza – Nirmala. Tahun tahun mendengarkan lagu lagu rumit dengan makna terlampau implisit sudah saya lewatkan. 2015 adalah tahun di mana Nani banyak menyanyi di kamar mandi dengan lagu yang didengarnya secara semena mena sekenanya. 
One Republic selalu mengisi playlist saya dari tahun ke tahun lantaran dulu sering mengcopy lagu dari radio dan baru nyadar ini: paska Love Runs Out yang rasanya mirip Panic! at the Disco banget itu, di single ke enam ini mereka lebih kalem dan liriknya juara.
3. Florence + The Machine – Delilah (How Big How Blue How Beautiful, 2015)
Saya memulai perjalanan menyukai musik musik ambeien ambient di tahun 2013. Saat itu genre folk  alternative indie-hipster sedang marak maraknya mungkin lantaran seluruh lelaki di muka bumi menyukai Summer dan seluruh perempuan di muka bumi ingin menjadi Summer from 500 days with Summer. Nama nama seperti Laura Marling, First Aid Kit, She and Him, Camera Obscura sampai Haim memenuhi playlist hanphone saya. 
https://i0.wp.com/florenceandthemachine.pl/wordpress/wp-content/uploads/2015/02/hbhbhb-cover.jpgSisa sisa kejayaan itu adalah Florence + The Machine, yang perkenalan pertama saya dengan musik mereka justru di tahun 2012, saat lagu Dog Days are Over muncul di serial CSI New York. Di tahun 2015 mereka merilis album How Big, How Blue How Beautiful yang langsung saya unduh via iTunes (Ya Allah ampuni dosa kafir indie Nani ya Allah dia beli iPhone ya Allah) dan seketika menyukai sejumlah nomor di album ini. Delilah, adalah lagu pertama yang dengan gila gilaan saya nyanyikan di bulan Juni di sepanjang jalan menuju tempat makan di tengah malam. Khas lagu lagu ambient, liriknya yang implisit dan kemampuan struktur musiknya membuat yang mendengar merasa remang remang adalah alasan kenapa ia berada di urutan ketiga di Rambling Mind Mixtape.
4. Paloma Faith – It’s The Not Knowing (A Perfect Contradiction, 2014)
Aduh maap, kalau untuk Paloma Faith saya kudu memasukkan satu album penuh ke dalam playlist. Hahaha becanda. Tapi temuan atas Paloma Faith adalah temuan yang paling menarik belakangan ini. Tema yang diambil kebetulan pas banget sama kondisi hati mungkin. Di tahun 2013 ketertarikan atas Paloma Faith ditandai dengan mulai masuknya nomor nomor seperti Agony, Technicolor, Picking Up The Pieces ke dalam daily playlist. 
https://i0.wp.com/ecx.images-amazon.com/images/I/51446Hp7yOL.jpgSama seperti nona Florence, album A Perfect Contradiction adalah yang saya unduh berbayar tanpa berpikir panjang soal tagihan kartu kredit di akhir bulan (eniwei kalo dipikir pikir paska mengenal spotify saya kok berasa bego sekali menghabiskan duit di iTunes ya hahaha). Nomor nomor di dalam album ini setimpal dengan sembilan ribu rupiah per lagunya. Can’t Rely on You nyaris menjadi yang saya pilih tapi aura pengen nampol nampolin orang menguat di lagu yang kalau boleh saya quote liriknya berbunyi seperti ini 
“I’m sure you meant all that you said, at the time
I believe you can’t be made of stone
We both know it’s ok to change your mind
It’s just the not knowing, that hurts, the most”
SINI SAYA TEMPELENG DULU KAMUNYA SINI HEH! oke maap, baper. 
5. Katjie & Piering – Kinanti (Kinanti EP, 2010)
Posted Image

Ini lagu lama yang secara sadar saya download ulang untuk dinikmati menjelang musim penghujan. Kesukaan atas lagu ini sampai menjadikannya inspirasi untuk satu cerpen di tahun 2013 silam. Men dua tahun sungguh waktu yang singkat, setiap mendengar lagu ini padahal rasanya seperti baru didengarkan kemarin. Saat masih muda mudanya, indie indienya, petualang petualangnya. Sekarang kita menua, iya. *minum teh sambil elus jenggot*

Katjie & Piering saya temukan di yesnowave.com, situs sekaligus label lokal dari Malang. Rilisan rilisan yesnowave senantiasa memuaskan selera saya seperti duo ini atau Semak Belokar hingga Bara Suara misalnya. Katjie & Piering adalah proyek dari vokalis Tigapagi (Sigit) dan vokalis Baby Eat Crackers (Ayay/Yayi), isi EP mereka sendiri adalah coveran lagu lagu indie yang dibikin menjadi folk minimalis. Dari lima nomor di EPnya, cuma Kinanti ini yang mereka ciptakan sendiri, sisanya cover (Psycho Girl (Olive Tree), Destiny (Homogenic), Zsa Zsa Zsu (Rock n’ Roll Mafia), Polypanic Room (Polyester Embassy).
6. Postmodern Jukebox – Seven Nation Army (Haley Reinhart, 2015)
https://i0.wp.com/cdn0.carltoninnmidway.com/wp-content/uploads/2015/03/scott-bradlee%E2%80%99s-postmodern-jukebox.jpgWhite Stripes justru saya dengarkan paska lagu Seven Nation Army dibawakan oleh Melanie Martinez dalam The Voice season 6 tiga tahun lalu. Seven Nation Army yang sama yang dibawakan Haley Reinhart jebolan American Idol 11 yang dibikin menjadi vintage! Lagu ini jadi semakin kaya karena dijadikan proyek Scott Bradley dalam laman youtubenya, Postmodern Jukebox (PMJ).
Laman itulah yang berbulan bulan belakangan saya ikuti perkembangannya dan sesekali diunduh menggunakan snaptube (terpujilah developer aplikasi ini), sederet nama peserta American Idol saya temukan dan kedua setelah Aubrey Logan, Haley mencuri hati saya dengan kemampuannya bernyanyi sekaligus bikin horny. 
7. Lana Del Rey – Young and Beautiful (The Great Gatsby Soundtrack, 2014)
https://i0.wp.com/cdn2-b.examiner.com/sites/default/files/styles/image_content_width/hash/92/fb/92fbc1759f726fc60b60a250fc7962b5.jpgThe Great Gatsby adalah satu dari sekian film yang saya cari dengan penuh kesungguhan lantaran reviewnya bagus dan nominasi oscarnya banyak tentu saja. Di tahun 2014 barulah saya nemu yang bluray dan sengaja memutarnya di layar televisi yang agak besar dengan sound maksimal karena seperti film Gravity (Sandra Bullock – 2014) yang hanya bisa dinikmati di bioskop, The Great Gatsby baru terasa greatnessnya kalau dinikmati setelah kausal kausal di atas dipenuhi.
Oh karena saya menyukai film ini dan nyaris hapal setiap adegannya, lagu Young and Beautiful yang mengalun saat Jay dan Daisy berdansa langsung nempel di kepala untuk kemudian digoogling. “Pantesan kenal suaranya,” ternyata Llama del Rey sotara sotara. Saya tidak tertarik pada Lana paska Barely Political habis habisan mereferensikan suaranya dengan sebutan A horny lazy kind of voice. Namun seorang kawan menceritakan soal album albumnya, lagu lagunya dan sedikit banyak lagu lagu Lana mulai saya dengarkan. By far yang menarik untuk saya ulang ulang di playlist adalah Young and Beautiful dan Video Games.
8. Barasuara – Api dan Lentera (Taifun, 2015)
1440x1440srProyekan indie yang juga saya suka. Sepintas saya kira ini ada hubungannya dengan Efek Rumah Kaca (yang sekarang menjadi Pandai Besi), gara gara laman youtube soundfromthecorner yang kerensekali itulah perkenalan dengan Barasuara dan album Taifun mereka. Saya fikir ini akan seperti band band indie sok kece (you know lah, ada perasaan “I’m better than anybody else since I played this kind of music with this kind of lyric” yang ditimbulkan band band indie protelar antimainstream pretensius di abad ini) yang melumasi musik mereka dengan referensi referensi njelimet dan gaung yang kelewat jenius hingga susah dipahami.
Dan ternyata benar adanya.
9. Mumford and Sons – The Wolf (Wilder Mind, 2015)
https://i0.wp.com/www.mumfordandsons.com/wp-content/uploads/2015/03/wildermind-packshot.jpgTidak begitu banyak banjo di album ini, tidak seperti album sebelumnya, Noah and the Whale, yang over-exploit unsur folk-country dengan kelintingan banjo di nyaris setiap partitur lagu lagunya. Di album ini saya merasa Mumford and Sons jauh lebih pop dan mengarus sekaligus mengingatkan pada band band 90an seperti the Strokes dan Arctic Monkey. 
The Wolf adalah single ketiga di album Wilder Mind, menyukai lagu ini karena setelah single self tittled, ini lagu kedua dengan nuansa yang lebih ceria dibanding nomor nomor lainnya yang entah kenapa terdengar sangat Bruce Springsteen sekali. Lagu ini juga yang menandai perubahan mood saya di beberapa pekan silam selepas bermalam malam mendengarkan lagu sendu. 
Because, the lone wolf licks their own wounds and being strong by that, right?
10. Sheila On 7 – Canggung (Musim Yang Baik, 2014)
https://nanirigby.files.wordpress.com/2016/02/c618d-downlaod-sheila-on-7-album-musim-yang-baik-lengkap.png
Menjadi penyiar radio sejak kelas 2 SMA hingga beberapa bulan lalu semestinya membuat saya aware terhadap lagu lagu baru. Nyatanya tidak, sejak awal berkiprah di dunia broadcast radio, saya selalu memilih program acara lagu lagu mancanegara. Ini berlangsung sekian lama dan akhirnya baru sadar soal saya buta lagu lagu indonesia populer pada masanya saat karaoke dengan kawan kawan. Mereka memilih lagu indonesia yang ngehits di zamannya dan saya cuma bisa cengo, tidak tau apa apa (and they’re like “How could you wasn’t know Cidaha Nan? Its like the biggest catching phrase in 2008” hahahaha)
Sheila on Seven, adalah pengecualian. Sebut album apa saja, lagu yang mana saja, dapat dipastikan saya tau dan hapal. Untuk alasan mereka menarik, udah itu aja. Musim yang Baik adalah album terakhir band asal Jogja ini di bawah Universal Music Indonesia. Paska album ini (kalaupun mereka bikin album lagi) maka Sheila on Seven akan menjadi band indie. Lagu Canggung, adalah lagu pertama di album ini yang saya dengarkan. Nomor nomor selanjutnya segera mengisi playlist dan sesekali didengarkan dengan senyum mengembang, liriknya positif dan musiknya riang.

Sebenarnya ada puluhan bahkan ratusan lagu lain yang menemani perjalanan 2015 saya, Namun lantaran aturan utama dari 2015 mixtape adalah kudu berasal dari tahun 2015 maka beginilah, sekurangnya sepuluh lagu teranyar di playlist harian saya.
Daaaaan, mixtapenya bisa dinikmati di sinih.

Lobus Temporal

Otak manusia dibagi menjadi 4 lobus; frontal, parietalis, oksipital dan temporal. 2013 adalah tahun di mana saya somehow terobsesi mempelajari kinerja otak melalui kanal wikipedia dan artikel artikel kedokteran di webmd. Oh saya ingat, saya lakukan itu untuk riset sebelum menulis cerpen Logika, walopun hasilnya alakadarnya tapi begitulah, ada beberapa yang masih saya ingat dari maraton membaca artikel bebas di internet itu.
Melalui lobus temporal, apa yang ditangkap oleh reseptor reseptor indera perasa (sistem limbik) diolah menjadi ingatan sensorik. Di sini terdapat hipokampus yang mengolah bau, suara, rasa, rangsangan syaraf dan tentu saja, gambar menjadi ingatan. Kenangan, yang kerap disandarkan sebagai sumber segala kebahagiaan itu adalah produk hipokampus. Pernah lagi senyam senyum abis gajian terus tetiba dunia hancur lebur gara gara mencium parfum mantan? nah berterimakasihlah pada hipokampus.
https://i0.wp.com/inspirably.com/uploads/user/26007-sometimes-your-heart-defies-everything-you-know-is-right-sometimes.pngDi lobus temporal pula, kenangan dapat diminimalisir. Prosesnya seperti menghapal RPUL, lagu kesayangan atau detil kecil soal kencan pertama, mata menerima apa yang dilihatnya dan memprosesnya sebagai ingatan jangka pendek. Stimulasi hipotalamuslah yang membuatnya menjadi ingatan jangka panjang bahkan patahan patahannya bisa melompat ke jalur subconscious atau memori bawah sadar. Ingatan jangka pendek yang diulang, diulang, diulang dan diulang hingga tiap kamu melihat wajahnya di mana saja, yang menghambur bukan sekedar identifikasi nama, tapi tarakdungcesdararamdararamsyalalala mampuslah kau dikoyak koyak kenangan.
Bagaimana proses pengolahan rasa hingga ia bisa menjadi pemicu emosi, penyebab seseoang galau atau bahkan menjadi pengambil keputusan keputusan besar dalam hidup. Beruntungnya, saya tidak banyak bersinggungan dengan perkara emosional sejak usia bekerja sehingga rasa rasanya beberapa keputusan besar dalam hidup saya ambil dengan logika yang insya Allah logis. Tidak ada momentum saya memutuskan untuk berhenti bekerja atau pindah ke luar kota lantaran disuruh pacar, misalnya. Atau karena marah dengan orang tertentu, atau karena secara batiniah tertekan. Untungnya saya diberi kekuatan untuk tidak baper secara serius.
Ah ya, itu istilahnya. Baper.
Menarik untuk memikirkan bahwa saat ini, tepat di momen ini, ada ribuan neuron dan syaraf yang bekerja di dalam kepala kita sedemikian hebohnya. Ada ribuan kilometer perjalanan darah dalam pembuluh dan ada ribuan potongan ingatan yang sedang diolah menjadi kenangan di dalam sistem limbik beserta amigdala dan hipokampus dan sederet reseptor lainnya. Dengan semua kehebohan di dalam sana, yang tampak di luar hanyalah kamu yang sedang menatap layar komputer sambil ngupil.
Lalu jika perkara kenangan yang menyayat hati nyatanya sesederhana itu, kenapa ada rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan saat kenangan itu menyerbu? Kenapa muncul perasaan seperti darah yang mendesir, dada yang sesak, feels like a pinch in a heart, kepala yang wombling bahkan ada yang serangan jantung karena kaget misalnya.
Perkenalkan, amigdala.
Saya ingat pernah berdiskusi perkara ini, soal temuan sains bahwa psychological pain dan social / physical pain sebenarnya memiliki sirkuit yang sama. Saya sebutkan bahwa amigdala mungkin mempengaruhi kelenjar kelenjar penghasil hormon yang kemudian menstimulasi organ untuk bereaksi terhadap rangsangan tersebut. Sederhananya, saat kamu lagi galau, amigdala memproses emosi menjadi sedih. Somehow, mungkin, rangsangan emosi dari amigdala ini bersinggungan dengan kelenjar penghasil protein ACTH (hipotipis, hipopipis?) yang membuat seseorang menangis dan menangis dan menangis hingga boom! dadanya sesak lantaran jalur oksigen masuk tertutupi kelenjar ingus. Lalu asma, lalu mati.
Lalu mati.
Namun argumen yang ia ajukan lebih menarik, dibanding merunutnya sebagai perkara sebab-akibat, ia menyebut bahwa secara logika psychological pain dan physical pain adalah sama. Sebab ketika seseorang sakit secara fisik, obat yang diberikan adalah zat kimia yang jika bersinergi dengan kelenjar hormon, sistem syaraf dan lobus lobus otak, maka ia akan menyeimbangkan yang kurang dan menihilkan sirkuit rasa sakit.
Jadi semisal sedang sedih sedihnya, minumlah esilgan 😀 😀 😀
Eh jangan ding, seriusan jangan. hahaha.
Dalam Madilog-nya Tan Malaka pernah membahas soal dialektika adalah penentu perkembangan mental manusia. Kemampuan untuk menangkap setiap kejadian melalui reseptor reseptor indera tubuh dan mengolahnya melalui cortex logika. Memisahkan mana yang penting dan tidak melalui hiptalamus lalu menyerapnya menjadi kenangan di hipokampus dan dikeluarkan sebagai emosi oleh amigdala. Bijak dalam berdialektika, adalah kunci. You can reads all the books in the world, or having a non-stop hour of langitan conversation, its all means nothing if you’re not loved. Kata Lennon begitu kak. Maaf. Posting ini ujungnya ternyata cuma begini doang :))) 

Prasangka Beragama

Saya ingat tahun tahun di mana saya sedemikian bersemangat mempelajari soal ketuhanan. Dan agama agama, dan mazhab mazhab, dan aliran aliran kepercayaan. Saya juga ingat bagaimana akun @rusnanianwar di twitter (yang kemudian saya tutup dua tahun kemudian) menembus angka 1,000 follower dalam waktu 4 bulan di tahun 2011. 
https://i0.wp.com/www.juwitajalil.com/http://www.juwitajalil.com/wp-content/uploads/2013/08/20130812-112015.jpgRasanya masih kemarin, saya begitu rutin mengikuti forum forum diskusi agama di facebook, twitter hingga kaskus dan menjadi ‘yang lantang mengajukan pendapatnya’ di media media diskusi tersebut. Bermalam malam hingga jelang subuh sibuk melontarkan kata kata semacam bigot, thagut, fundamentalis dan sebagainya untuk mereka yang tidak setuju soal cara saya memandang agama.
Diskusi diskusi ini semakin menjadi ketika saya tinggal di Jakarta. Semakin banyak kawan kawan ‘sealiran’ untuk saya temui dan ‘membenarkan’ lontaran lontaran kalimat saya yang sungguh dangkal dan hanya berdasar pada logika, akal dan secuil referensi bacaan.
2012 adalah downroad saya dari puncak gunung itu. Saya bekerja di sebuah production house milik Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), anak dari Emha Ainun Nadjib. Perlahan saya berproses dan mempelajari orang orangnya Cak Nun dan mendapati ini: a bliss of tranquility. Dari orang orang tersebut saya tidak menemukan kemarahan, tidak menemukan hujatan, tidak menemukan bantahan bantahan. Orang orang Cak Nun adalah definisi terbaik dari kata toleransi yang pernah saya temui. 
Lalu begitu saja, seiring dengan sibuknya saya mengelola konten akun @AkuRayya kala itu, twitter saya hilang gairah. Rutinitas ngetwit berkurang hingga hitungan jari hingga tidak sama sekali. Pikiran saya teralihkan, semangat saya terluapkan dalam keinginan untuk belajar soal tranquility-nya orang orang Cak Nun. Saya mengikuti nyaris setiap Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, menonton unggahan video youtube dan melepaskan diri dari penggolongan penggolongan istilah buatan manusia. Saya bukan lagi atheis, agnostik, theist-enthusiast, modern buddhism atau apalah istilah yang dulu sempat disebutkan untuk saya -atau akun twitter saya- kala itu.
Saya manusia, yang memanusiakan dirinya.
Waktu berselang dan saya pulang. Sepanjang rentang waktu dari saat itu hingga sekarang, saya nyaris tidak pernah lagi mengikuti diskusi langitan. Begitu banyak hal yang terjadi dan tiga tahun kemudian, saya menulis posting ini sambil tertawa sendiri. Oh how young and naive I was. 
Simpulannya adalah, tidak peduli bagaimana orang menyebutmu sebagai gadis 18 tahun cerdas yang memiliki kemampuan berlogika di atas rata rata, kamu tidak akan bisa menemukan kebijaksanaan waktu secepat usiamu. Mengetahui kapan harus diam saja, kapan harus berbicara namun tidak menyakiti, atau kapan harus menahan keinginan untuk berdebat atas sesuatu yang hanya akan berakhir dengan ketidaknyamanan adalah perkara kebijaksanaan waktu. Sejak usia 18 hingga sekarang nyaris menyelesaikan seperempat abad putaran usia, saya belum memiliki kebijaksanaan itu.
To restrain yourself from being selfish, is the main goal of living in a society. 
 Saya bumping di timehop dan menemukan sederet posting soal jilbab. Saya masih ingat perspektif saya soal penutup kepala umat muslim ini. Intinya soal pemisahan antara agama dan budaya, serta kepandaian memahami aturan tersirat dan tersurat. Saya tertawa karena sejak seminggu belakangan saya memutuskan untuk menggunakan apa yang saya sebut sebagai “Tidak lebih sebagai penegas teritori umat superior yang telah merasa lebih beragama” untuk alasan yang insya Allah bukan itu. Saya masih Nani yang sama, hanya lebih kalem karena sulit untuk bergerak berlebihan dengan baju panjang dan jilbab di kepala. 
Yang saya tau, ada jawaban untuk keinginan (dan tuntutan) saya atas sebuah perubahan.
Hidup kadang memang semenarik ini.