Author Archives: nanirigby

About nanirigby

Terlalu banyak kata-kata, sedikit sekali suara.

dia yang ingin sekali dicintai

Berbaik sangkalah pada ia yang dengan kernyit di dahimu kau sebut mencari perhatian. Mungkin tidak ada sesiapa yang peduli pada sedih-senangnya, sehingga harus ia curahkan kegundahannya kepada orang-orang asing karena tak lagi sanggup ditelannya sendirian.

Bersabarlah kepada ia yang kau sebut terlalu berperasa. Mungkin hidup telah menghimpitnya sedemikian lama sehingga tak ada ruang untuknya menangis dan tertawa barang sekejap saja. Sehingga ketika akhirnya ia bisa menciptakan ruang itu, ia lepaskan dahaga sepuasnya, hal asing bagimu yang memiliki mata air sejangkauan beberapa belas langkah kaki jaraknya.

Berlalu saja, teruskan perjalanan jika memaklumi dan menerima tidak bisa diselipkan ke dalam ruang pengertianmu. Jika apa yang kau kira hanya sementara dan bisa dihentikan kapan saja, bergema selamanya di tubuh orang lain. Jika apa yang kau kira sumir dan mudah untuk berakhir, menjadi pelipur lara saat air matanya tak berhenti mengalir. Jika apa yang bagimu mudah untuk dilupakan, ia kenang selamanya seumpama kutukan.

Dalam dunianya, hidup seolah lupa mengajari ia tentang cinta. Tentang rasa nyaman dari sebuah pelukan. Tentang pujian dan kasih sayang. Terlalu banyak cacian dan penolakan yang ia terima, sehingga ketika sekali saja ada pintu yang diketuknya lalu terbuka, ia betah berlama-lama duduk di ruang muka. Sesuatu yang sederhana namun membayar lunas penderitaannya.

Jangan diusir dulu, toh ia sudah berusaha untuk tidak mengganggu. Ditahannya gelak tawa agar tidak terlampau nyaring. Dirapalnya pengingat seolah mantra agar tidak bergerak terlalu banyak. Agar engkau tidak melihatnya sebagai pengganggu yang menyusahkan.

Berbaik hatilah untuk tidak menambah satu lagi pintu yang ditutup berdebam di depan wajahnya. Ia hanya ingin tinggal sedikit lebih lama, sebelum malam tiba dan ia harus pulang kepada rumah tanpa sesiapa yang menunggunya kecuali kesunyian. Terlalu banyak sunyi di dalam hidupnya, duduk bersamamu adalah keriaan yang dirayakannya dengan penuh sukacita.

Maklumi, ia hanya ingin sekali dicintai.

Denpasar, 30 September 2021.

Financial Stability Untuk Kita Yang Bukan Anak Menteri

Aku ingat betapa menakutkannya dunia luar saat pertama kali merantau di umur 19 tahun ke Jakarta. Lahir dan besar di keluarga miskin membuatku sama sekali asing dengan istilah safety net, yang ada di pikiranku adalah jika aku tidak bisa bertahan hidup, aku tidak punya apa-sesiapa yang menangkap kejatuhanku.

Saat itu hampir setiap hari aku was-was soal bagaimana cara bertahan hidup di Jakarta dengan mengandalkan diriku sendiri. Hampir setiap hari juga kelaparan karena aku payah sekali dalam mengelola uang. Kesalahan utamaku saat itu adalah tidak memiliki perencanaan apa-apa terhadap uang yang aku punya. Uang masuk dan dihabiskan sekali waktu untuk pengalaman-pengalaman tidak perlu. Sekaligus jika dipikir-pikir, aku memberikan tugas terlalu berat untuk diriku sendiri yang masih 19 tahun dan tidak mengerti apa-apa soal dunia.

Dari situ aku mulai belajar tentang personal financial. Belajar cara membuat neraca keuangan sederhana, assessment risk, menentukan tujuan jangka pendek-panjang dan seterusnya dengan keinginan yang super sederhana: aku nggak mau mati kelaparan. Kalau dibuat skema how-to, mungkin ini beberapa hal yang bisa dicoba kalau saat ini kamu mau mulai sedikit melek soal keuangan pribadi.

Pencatatan

Entah kenapa tiap bicara “pencatatan keuangan” yang muncul di kepalaku adalah ingatan saat SD, membaca komik dan melihat Ibunya Nobita atau Mamanya Shinchan yang lagi duduk di ruang keluarga dan menulis buku ledger keuangan rumah tangga mereka. I never saw my mom doing that, pas SMA aku masuk jurusan IPS dan belajar soal akuntansi sederhana kemudian ngeuh soal ini.

Saat ini aku mencatat pakai template dari Google Sheet. Mediumnya tentu nggak harus sama, dan bisa disesuaikan mau serinci apa. Aku menganggap kegiatan ini seru, jadi ledger keuangan aku isinya detil hingga ke tiga angka terakhir. Kalau hanya ingin mencatat pos general juga silakan. Yang penting, catat aja dulu.

Review Keuangan

Apa tujuan pencatatan? Biar bisa di-review. Nyatet doang terus tidak melakukan apa-apa yang ada makin tertekan karena “WOW AKU MENGHABISKAN BELASAN JUTA SEBULAN BUAT JAJAN MAKANAN DOANG” *true story. Bicara soal tren spending, I slipped many times. Kondisi mental yang kurang baik membuat alasanku membeli barang/pengalaman sering didorong mental state yang impulsif, fatalis dan mencari kompensasi. Kesadarannya dibangun dari dua sisi: memahami pattern mental diri sendiri, dan memahami kondisi keuangan saat itu.

Semakin sering dilatih dan aware dengan dua state itu, ngeremnya makin cepat karena bisa mapping “Oh ini aku lagi episode, aku impulsif pengen beli barang nggak penting, dan uang jajan aku tinggal sekian. Kalau aku abisin sekarang, minggu depan aku nggak punya uang jajan, sayang ah kalau kebutuhan jangka panjang dihabisin dalam semalam,”

Intinya, review diperlukan untuk mengerti tren pemasukan dan pengeluaran serta alasan di balik itu semua. Dari sini akan ketahuan apakah gaya hidup kita sudah sesuai dengan pemasukan.

Adjustment

Aku sering dapat komentar “Ya kalau pendapatannya pas-pasan apa yang mau dibagi?” saat bercerita tentang personal financial strategy di Twitter. Sementara aku kenal seseorang yang gajinya 1,5 juta di tahun 2021 dan masih bisa punya dana darurat. Atau bagaimana aku sendiri dengan gaji 3 juta di tahun 2013 bisa menandatangani KPR subsidi yang sekarang cicilannya setara dengan tiga lembar kaus Uniqlo.

Pertama adalah adjustment gaya hidup, di aku soal penyesuaian ini berlaku selamanya. Ada masa di mana income bisa dipakai buat beli aset, ada juga masa di mana buat nabung aja setengah mati. Ada masanya income bisa membiayai liburan ke luar negeri, ada masanya harus ngalah pindah ke kos-kosan yang lebih murah biar nggak mengusik dana darurat.

Kedua, penyesuaian anggaran. Setiap orang punya pendapatan, kebutuhan, gaya hidup dan beban pengeluaran yang berbeda-beda. Di aku sendiri pos anggaran nggak saklek, ada masa di mana dana darurat harus terkuras karena urusan keluarga dan anggaran pengeluaran diketatin lagi buat nambal, ada masa di mana kerjaan lagi sepi (aku freelancer btw) dan nggak punya sisa uang buat nabung, semuanya benar-benar customized buat setiap individu.

Tujuan utama adjustment buat aku adalah: menghindari hutang.

Pembagian Pos

Sebelum kenal LSP method, pos keuangan aku ngaco banget. Punya masa kecil serba berkekurangan, mindset aku soal duit adalah nabung-nabung-nabung sebagai kompensasi keadaan susah yang pernah aku alami. Uang masuk, dipotong buat kebutuhan rutin, sisanya masuk tabungan, mode perang banget pokoknya. Akhirnya sering stress karena hidup frugal melulu, ke-trigger, relapse, overspending nguras tabungan buat coping dengan beli barang/experience. It’s a vicious cycle.

Living Saving Playing ini sederhana tapi doable banget. Intinya membagi income ke dalam 50% Living, 30% Saving dan 20% Playing. Misalnya income 5 juta. Berarti ada ruang 2,5 juta buat pengeluaran rutin, 1,5 juta buat nabung/bayar hutang, dan 1 juta buat jajan.

Jika yang muncul “Mustahil bisa hidup dengan pengeluaran rutin 2,5 juta aja sebulan” maka kembalikan ke soal adjustment. Definisi pos living adalah pengeluaran untuk bertahan hidup. Untuk membuat ini possible adalah dengan menyesuaikan gaya hidup agar cukup ke dalam frame, atau memperbesar frame dengan mencari income tambahan.

Saat itu, aku membagi 2,5 juta menjadi satu juta untuk kos, 500 ribu untuk groceries makanan sebulan, 500 ribu untuk BPJS-handphone dan listrik, dan 500 ribu untuk bensin dan household (skinker, sabun mandi, sampo, rokok dll), nggak betah living dengan kondisi bare minimum nggak bisa beli yoghurt dan granola buat sarapan, aku mencari income tambahan untuk memperbesar plafon pengeluaranku.

Oh iya, kalau punya hutang (berbentuk cicilan atau soft loan), sisihkan dari saving sebab apa artinya punya tabungan (apalagi investasi) kalau hutang menunggak/tidak dibayar wkwk.

Arm’s Reach Goals

Apa sih financial stability itu? Yang bikin males memulai semua ini adalah mindset yang mengira untuk bisa stabil secara finansial, pendapatan kita sudah harus di angka tertentu. Atau punya safety net berupa orang tua atau pasangan kaya raya. Sehingga saat kita merasa belum sampai di titik itu (or worse, merasa mendapat lotere kehidupan yang buruk karena bukan anak orang kaya) keinginan untuk mencapai kestabilan finansial bahkan nggak muncul.

Buat aku yang bukan siapa-siapa ini, kalau mau ngegas kerja ya plafon pendapatannya juga akan mentok di situasi sebagai anak orang miskin dari kampung yang cuma lulusan SMA. Sehingga kalau aku menggunakan mindset stabilitas finansial sama dengan kaya-raya-bisa-makan-indomie-bertopping-kaviar-hanya-karena-iseng-saja, dibutuhkan keajaiban yang besar untuk mencapai itu. Dan keajaiban nggak bisa dijadikan instrumen ukuran finansial.

Jadi aku mulai dari sekarang, definisiku tentang financial stability adalah kondisi hidup di mana aku tidak punya hutang, memiliki dana darurat dan punya tabungan/investasi. Aku sudah meninggalkan target harus punya rumah, harus punya mobil, harus jalan-jalan ke luar negeri biar dianggap sukses dan seterusnya karena terasa sangat jauh dan tidak mudah dijangkau tangan.

Dengan mindset berupa arm’s reach goals, aku bisa menikmati kemenangan-kemenangan kecil setiap hari. Ini berpengaruh kepada rasa percaya diri dan ketenangan pikiran. Sekarang buatku hidup tanpa hutang, punya dana darurat, bisa dine out seminggu 2-3 kali sudah menjadi stability tersendiri. Saat melihat di akhir bulan uang tabungan tidak terusik oleh pengeluaran-pengeluaran impulsif rasanya bahagia sekali. Those are my very own little small wins.

Kita perlu menjadi lebih ramah kepada diri sendiri. Yes, it’d be ideal if you’re 35 and own your own house or car. Atau berusia 25 dan sudah liburan ke lima negara. Atau pensiun di usia 40 tahun, dan seterusnya. Tapi tidak semua orang berangkat dari garis start yang sama. Kita perlu membuat lingkungan yang lebih ramah untuk anak-anak muda yang punya struggle-nya sendiri dengan tidak meminjamkan mimpi-mimpi finansial boomer kepada mereka.

Jadi makna financial stability kamu, apa?

Denpasar, 26 September 2021

First Person Singular; Pengulangan Yang Menjemukan

Monyet ini memang berkaitan dengan cerita, tapi ya tetap saja, cover novel yang terasa seperti halaman depan majalah satwa.

T/W: spoiler

Di tengah pandemi tepatnya 6 April 2021 Haruki Murakami merilis kumpulan cerita berjudul First Person Singular. Aku akhirnya berkesempatan membaca novel ini di bulan September awal, setelah bos kesayangan membelikan Kindle lengkap dengan uang jajan untuk membeli buku-buku bahagia.

Setelah menamatkan Dear Evan Hansen, First Person Singular menjadi buku kedua yang dibaca via Kindle. Pengalaman membaca menggunakan media elektronik seperti ini adalah sesuatu yang sama sekali asing. Sebelumnya pernah beberapa kali membaca .PDF jurnal dan artikel di laptop tapi sensasinya tentu berbeda dengan membaca untuk tujuan leisure di Kindle.

And yes, Kindle is very worth it. Teknologinya yang sangat ramah untuk mata membuat berjam-jam membaca buku menjadi tidak melelahkan. Anyway, let’s talk about Murakami’s latest book.

First Singular Person menjadi buku ke-21 Murakami yang aku baca. Dan mungkin karena aku sudah membaca semua buku beliau, aku jadi bisa melihat pola penulisan yang digunakan Murakami dan buku ini menjadi satu lagi kumpulan cerita tentang laki-laki dewasa penggemar jazz dan musik klasik yang terlibat dalam pengalaman absurd yang berkaitan dengan dimensi lain.

Terdapat delapan cerita pendek yang dirangkum menjadi novel sepanjang 248 halaman. Tidak terlalu tebal memang, kurang lebih seperti The Elephant Vanishes, kumpulan cerita pendek Murakami yang hanya 327 halaman. Untuk harga 23 dolar, well… ya udahlah ya. Namanya ngefans.

Favoritku ada di dua cerpen, With the Beatles dan Carnaval. Keduanya mengangkat cerita yang cukup segar dibanding lima lainnya yang dari dua paragraf awal sudah bisa ditebak endingnya bagaimana. Satu cerita berjudul The Yakult Swallows Poetry Collection (yang tadinya aku kira akan seheboh judul cerita Super-Frog Saves Tokyo) bahkan bukan cerita fiksi, tapi jurnal Murakami yang pernah menulis kumpulan puisi dan diterbitkan secara independen di awal-awal karirnya sebagai penulis.

Lau bayangkan lagi random liburan ke Jepang, berendam di Onsen terus ada beginian iseng ngajak lau ngobrol soal rahasia, cinta dan trauma masa lalu.

Sentral cerita di First Singular Person adalah Confessions of Shinagawa Monkey, tentang laki-laki pendiam penyendiri yang memiliki kompleksitas pikiran dan sulit dimengerti apalagi dicintai, dan suka bepergian seorang diri dalam rangka spiritual pilgrimage. Mungkin karena cerpennya singkat, tidak ditambahkan kalau sosok pria ini menyukai jazz dan musik klasik dan menyukai buku-buku sastra klasik. Ia lalu bertemu dengan monyet yang bisa berbicara, tanpa keterkejutan berarti dia dan monyet ini ngobrol soal cinta sampai menjelang pagi. Udah deh.

Iya beneran udah deh. Lima tahun kemudian tokoh utamanya ketemu perempuan yang pernah ditaksir monyet ini dan dia kemudian memutuskan untuk menyimpan rahasia itu.

Dua cerpen yang aku sebut sebagai favoritku di atas juga memiliki tokoh utama yang Murakami banget. With The Beatles adalah perjalanan napak tilas kenangan seorang laki-laki ke masa SMA-nya saat dia menjadi penggemar musik jazz di tengah-tengah booming the Beatles. Cerita kemudian berlanjut tentang bagaimana dia jatuh cinta dengan sosok perempuan misterius yang tersenyum manis sekali sambil memegang record With The Beatles. Tentu sampai akhir cerita dia tidak pernah bertemu dengan perempuan itu, alih-alih berpacaran dengan perempuan yang tidak menyukai musik sama sekali dan kemudian bunuh diri dua belas tahun kemudian.

Soal laki-laki pendiam penyendiri yang suka sibuk dengan pikirannya sendiri dan menyukai jazz setengah mati dielaborasi dengan lebih detail di Carnaval. Pusat cerita adalah seorang laki-laki beristri yang menjadi dekat dengan perempuan jelek (yes, her ugliness is actually being emphasized in the story, regarding why she’s repulsively ugly and he won’t ended up being in any relationship with her) berkat kegemaran mereka terhadap nomor musik klasik Schumann berjudul Carnaval.

Perempuan itu kemudian menghilang, tokoh utamanya kehilangan sosok yang mengerti dirinya luar dalam berkat musik Schumann, tapi ia tidak melakukan apa-apa tentang itu. Tamat.

Mungkin masalahku adalah terlalu banyak membaca Murakami, sehingga tidak lagi menemukan keriaan yang sama seperti dulu saat pertama – keempat kali membaca karya beliau, saat membaca Kafka on The Shore, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage dan Sputnik Sweetheart yang membuat terkesima dengan betapa relate-nya diri ini dengan kesepian yang dirasakan karakter di dalamnya. He’s a damn good writer, for sure, tapi masalah dari terlalu kenal adalah rasa bosan. Dan meski sudah hampir setahun tidak membaca Murakami sejak menamatkan Killing Commendatore, First Singular Person membawa kejemuan yang sama saat menjejak paragraf kedua.

Tapi apakah akan berhenti membaca karya beliau selanjutnya? Tentu saja tidak.

Denpasar, 24 September 2021

Setahun di Bali, Sebuah Manifestasi

T/W : suicidal.

Lima tahun yang lalu, aku memutuskan untuk mati di usia 30 tahun. Tahun 2016 sudah mengguncang hidupku sedemikian keras dengan runutan kejadian yang melabrak banyak sekali nilai yang kumiliki dan aku merasa worthless di penghujung tahun. Ditambah, aku tidak melihat apapun yang cukup menarik di masa depan untukku. Pekerjaan yang membosankan, rutinitas yang berulang, tidak punya mimpi, tidak ada rencana jangka panjang yang berarti. Maka saat Januari menyentuh angka sepuluh di tahun 2017, aku membuat harapan untuk ulang tahun ke 25:

“Jika dalam lima tahun ke depan aku masih merasakan hal yang sama dengan sekarang, bantu aku untuk mengakhirinya. Kuatkan aku untuk bunuh diri.”

Hari-bulan-tahun berlalu sejak usia 25 dengan begitu saja. Bangun pagi, pergi ke kantor, duduk manis delapan jam mengerjakan sesuatu yang membosankan dan berulang-ulang, pulang ke rumah yang kosong dan gelap, menonton televisi dan membaca sedikit buku lalu tidur untuk mengulangi hal yang sama keesokan hari.

Akhir pekan dan hari libur diisi dengan liburan sesekali, dalam dan luar negeri. Tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menabung, membeli mobil, bahkan. Di atas kertas, hidupku tidak layak untuk dikeluhkan. Sebab tidak sekali dua aku bercerita tentang ingatan yang mencekik hingga membuat jantungku terasa dicubit berbalas dengan kamu kurang bersyukur, hidupmu ini sungguh beruntung jika dibanding si A, si B, si C.

Tentu, aku berulang kali duduk dengan diriku sendiri dan melakukan peninjauan kembali tentang keinginan untuk mati. “Bukankah masih ada cicilan rumah delapan tahun lagi?”, “Bukankah ada keluarga dan teman yang akan bersedih jika aku sudah tidak ada lagi?”, “Bukankah aku sungguh beruntung bisa memiliki semua ini?”

Namun semua assessment yang aku lakukan berbuah dengan sanggahan yang masuk akal dan tidak merepotkan siapapun. Aku punya cukup tabungan untuk mengurus kematianku dengan baik, dan bersisa untuk menopang kehidupan keluarga. Aku tidak memiliki tanggungan hutang kecuali KPR dan itupun akan terputus setelah aku mati.

Hingga 2019 akhir, keinginan itu masih ada. Setelah rentetan jatuh-cinta dan patah-hati berkali-kali, setelah kukira jika tujuan material tidak bisa menyelamatkanku dari rencana untuk mati, siapa tahu love will be my salvation. Nyatanya, tidak tersedia cinta yang cukup dari seseorang hingga ia mau merentang kompromi atas keadaan kami. Tidak tersedia rasa sayang yang cukup hingga seseorang mau menemani meski aku sedang sulit untuk dimengerti. Tidak tersedia cukup cinta untukku hingga seseorang mau menolongku untuk melawan suara di dalam kepalaku.

Tahun baru 2020 kembali aku bisikkan

“Tinggal dua tahun lagi, kuatkan aku untuk bunuh diri,”

Pandemi, lalu aku didiagnosa depresi.

Berangkat dari patah hati sekali lagi, Oktober 2020 aku ingin mempercepat rencana kematianku. Love is not my salvation because no matter how hard I try to love, I will never be loved. Sepuluh butir Esilgan bersama setengah botol Jägermeister ditenggak sekali waktu. Di lantai dapur yang dingin aku merasakan waktu berputar pelan. Dingin dan mencekam, seperti malam tanpa rembulan di musim hujan. Ingatan masa kecil, sosok almarhum Mama duduk di sofa, bayangan hitam di jendela, berkelebat bergantian hingga akhirnya semua gelap dan aku terbangun keesokan harinya. Aku hanya terlampau mabuk malam itu. Psikiater ternyata memberiku placebo karena setelah tes MMPI dan dinyatakan MDD, aku tidak boleh menerima obat tanpa supervisi.

Dua bulan penuh aku mengurung diri di rumah. Pekerjaan berantakan tapi semua orang maklum, kita sedang transisi WFO-WFH di tengah pandemi. Performa kerjaku turun drastis hingga ditegur HRD berulang kali. Menghabiskan cuti setahun dalam sekali waktu, menambahnya dengan izin sakit dan setiap hari aku hanya menangis dan menangis saja. Sampai lelah dan tertidur, untuk bangun dan menangis lagi. Merasa situasi ini tidak ada ujungnya, aku yang sudah kepayahan untuk menyusun possibility jalan keluar mengambil exit toll dengan resign dan menyerah dengan pekerjaanku.

Kali ini, ingatan yang mencekik hingga membuat jantungku terasa dicubit bertambah dengan penolakan-penolakan beruntun saat aku mengira aku layak untuk dicintai. Saat aku kira, tubuh dan pikiranku layak untuk disayangi. Ternyata ada banyak tapi di sana, bertumpuk sederet syarat hingga aku harus menjadi bukan diriku sendiri jika ingin tetap dicintai.

23 November, tepat di hari ulang tahun almarhum Mama, aku membeli tiket ke Bali untuk berangkat keesokan harinya. Tidak ada apapun lagi yang menungguku di kota itu. Tidak ada yang menahanku untuk pergi. Tanpa rencana berarti, dengan sedikit tabungan dan koper kecil berisi tujuh lembar baju aku pergi ke Bali.

Untuk menangis dan menangis lagi.

Desember pertengahan, aku mulai cutting untuk mengurangi rasa sakit di dalam dada. Tabungan kian menipis dan aku perlu bekerja untuk bertahan hidup, setidaknya setahun lagi sampai tenggat bunuh diriku tiba. Tidak terhitung berapa banyak guratan di lengan dan paha yang aku goreskan, agar rasa nyeri dan panas dari setiap sayatan dapat mengalihkan pikiranku dan aku bisa kembali fokus untuk bekerja.

Tahun baru 2021 di Canggu, aku bertemu dengan seseorang yang juga mengidap MDD. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian. Don’t get me wrong, my friends are angels. Dukungan dan ketersediaan untuk mendengarkan selalu ada dari mereka. Tapi aku terlampau lelah untuk diadu nasibnya dengan orang-orang yang tidak aku kenal namun jauh lebih tidak “beruntung” dibanding aku.

Sehari setelah ulang tahunku, aku mulai menabung untuk biaya rutin ke psikolog. Aku disarankan untuk berhenti ke psikiater (yang sudah on-off aku kunjungi sejak 2015) dan mengulang kembali diagnosaku dengan menggunakan pendekatan psikolog. Pradnyagama menjadi pilihan setelah direkomendasikan banyak orang.

Februari aku jatuh cinta, rasanya seperti angin segar setelah berbulan-bulan menangis dan menangis saja. Menyenangkan rasanya untuk bangun pagi dengan sesuatu yang diharapkan di ujung hari. Sekadar obrolan atau pertemuan yang menyenangkan dengan sosok yang disayangi. Tapi Mungkin subconscious-ku yang bekerja, setelah hingga Maret aku merasa tidak mendapat tanggapan berarti atas pernyataan cintaku, aku memutuskan untuk pergi sebelum rasanya berkembang terlalu besar dan aku dihantam penolakan lagi. I can’t afford another heartbreak during this situation.

Setelah tabungan cukup untuk memastikan bisa konsultasi rutin, 7 April menjadi saat pertama pertemuan dengan Dokter Retno, diagnosa awal: PTSD dengan kecenderungan depresi.

Hari ini, 14 konsultasi sudah genap aku jalani dengan rentang bertahap seminggu sekali, 2 minggu sekali hingga sebulan sekali. Biayanya yang non-BPJS cukup menambah motivasi untuk segera pulih agar tidak perlu ke psikolog serutin itu lagi. Sepertinya ada beberapa konsultasi dengan jawaban yang aku fabrikasi agar aku tidak diminta untuk datang kembali setelah 7 hari.

September menjadi bulan pertama tanpa kunjungan ke psikolog. Pekerjaanku membaik, aku mendapat banyak kesempatan untuk bekerja sebagai penulis, mimpi lama yang sempat aku sebut sebagai cita-cita saat SMA dulu. Aku pelan-pelan membuat mental note untuk membagi porsi berduka dan menangis secukupnya. Rasa sakitnya masih ada, sesekali singgah, terutama di tengah malam seperti ini. Saat lampu dimatikan dan aku tertinggal sendirian dengan pikiranku. Tapi mungkin, sudah cukup aku memberikan ruang untuk berduka terlalu larut. Untuk meratap terlalu lama.

September sekaligus menjadi penanda, genap dua bulan aku bisa berdamai dengan kesepian. Sejauh aku mengingat, tidak ada sekalipun aku merasa resah saat sendirian dan kepalaku mulai berbicara. Tidak ada keinginan untuk membuat distraksi, untuk menenggak alkohol, untuk bertemu entah siapa, untuk membuat suaranya hilang untuk sementara. Aku dengarkan saja, sambil melakukan apa yang aku suka; bekerja.

Berminggu-minggu tidak bertemu manusia lain ternyata tidak seburuk itu. Aku masih menerka apa yang mendorongku untuk pindah dan tinggal selama ini di Bali. Aku tidak bisa dengan gamblang menyebut bahwa Bali “menyelamatkanku”, karena memang tidak ada rencana pasti atas keberadaanku di sini. Seluruh pekerjaanku bisa dilakoni dari mana saja.

Waktu itu, setelah psikiater menolak untuk mengobatiku kecuali aku meminta Abah untuk menandatangani surat pernyataan bersedia dirujuk ke RSJ Provinsi jika aku kembali mencoba bunuh diri, aku hanya ingin lari. Aku belum menggenapi tahun kematianku. Aku masih ingin berjudi dengan alam semesta tentang tenggat waktuku. Aku ingin melihat apakah aku cukup spesial untuk diselamatkan dari diriku sendiri.

Hanya Bali yang terlintas di malam itu. Sejak 2016 Bali telah kukunjungi puluhan kali. Tempat di mana aku jatuh cinta untuk pertama kali, tempat di mana aku bisa bercerita tentang apa saja, tempat yang membuatku merasa akhirnya dimengerti. Hanya Bali, yang membawa rasa nyaman meski di sini hatiku dikoyak dua kali oleh orang yang sama. Tapi ia juga memiliki pelukan yang lebih nyaman dari apapun yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.

Mungkin sekadar bias, mungkin hanya delusi yang aku bangun di dalam kepala, namun rasa nyaman sepanjang Februari – Maret 2021 yang aku preserve sebaik mungkin dalam toples yang sempurna tanpa cacat dan cela telah berhasil membantuku melalui sesi terapi yang panjang dan menguras emosi. Toples kenangan yang aku simpan meski telah berbulan-bulan tanpa sapaan menjadi pelipur di malam seperti ini. Sesuatu yang sepele dan bisa (dan mungkin sudah) dilakukannya dengan siapa saja menjadi patronus untuk mengusir rasa sakit dan suara di dalam kepala.

September sebentar lagi berakhir, tinggal tiga bulan sebelum aku genap berusia 30 dan memasuki tahun yang direncanakan akan menjadi tahun terakhir kehidupanku. Apakah keinginan untuk mati di usia 30 masih ada? Jawabannya masih. “Resolusi” itu menjadi bantal empuk yang menghiburku saat semuanya terasa begitu menghimpit dan mudah untukku berkata “I could just die anytime I want,”

Tapi ini saatnya untuk berhenti berjudi dengan semesta. Aku tidak se-spesial itu hingga harus ada grand design khusus untukku seorang. Tidak siapapun, termasuk Tuhan, berhutang penghidupan yang baik untukku. Maka tindakan untuk membuat tenggat dan menuntut perubahan dari luar adalah upaya sia-sia. Meski telah bertahap aku hilangkan jejak perasaanku di dunia maya dan membakar jurnal selama satu dekade kehidupanku karena aku tidak ingin dipepatkan dalam premis berupa “Nani yang mati bunuh diri karena kurang bersyukur.”

So I guess I’ll just live.

Until I don’t.

Denpasar, 24 September 2021.

to lost and never be found

Dibanding 10-15 tahun lalu, menulis menjadi perkara rumit untukku sekarang. Untuk sekadar duduk, menyalakan sebatang-dua batang rokok, menyeduh kopi lalu membuka laman ini saja telah menghabiskan sepanjang siang. Setiap kalimat yang telah ditulis, dibaca lalu dihapus lalu ditulis kemudian dihapus kembali. Membaca kembali blog ini di 10 tahun silam, aku semacam iri, ringan sekali bagi Nani usia 18 tahun menjadi jujur terhadap dirinya sendiri.

Semakin usia bertambah, semakin banyak yang aku pelajari, yang sedikit banyak aku mengerti, namun mereka seumpama gumpalan di kerongkongan yang mencegahmu untuk berbicara. Beberapa lainnya bermanifestasi menjadi keraguan akankah aku dimengerti atau sekadar diberikan satu lagi stempel sebagai makhluk yang tidak sebaiknya didekati.

Jika dulu mudah bagiku berapi-api menuliskan kegelisahan sesederhana rasa kesal sehabis membaca pembunuhan umat Ahmadiyah di Cikeusik, yang kemudian berkembang menjadi artikel-opini bahkan cerpen, kini apa yang aku pikirkan dan rasakan adalah abstrak yang tidak hanya rumit untuk diurai, ia mengkonsumsi terlalu banyak energi dalam proses penguraiannya hingga ide-ide menguar begitu saja sebelum ia bahkan dipahami.

Astaga, lelah sekali berada di dalam kepala ini.

Denpasar, 15 Juni 2021.

Cantik Itu Luka – Sebuah Review

SwYfxA90.jpg

Eka Kurniawan harus saya cintai untuk alasan ini:

Dia adalah pencipta karakter paling pahit yang pernah saya baca.

Holden Caufield-nya The Catcher in the Rye sampai Toru Watanabe-nya Haruki Murakami yang saya kira takaran pahitnya sudah di atas rata rata itu kalah oleh karakter karakter yang ada di dalam novel setebal 478 halaman ini. Saya dibuat menggumam “Anjrit..” berkali kali saat disuguhkan situasi yang menunjukkan betapa dingin dan tidak berperasaannya si tokoh utama.

Saya kira karakter demikian hanya dimiliki satu tokoh utama dengan tokoh tokoh lain sebagai penyeimbang. Dugaan ini seketika runtuh sebab pada halaman demi halaman yang melibatkan tokoh baru, saya selalu menemukan kekejaman dan kedinginan yang sama dengan karakter utama- Dewi Ayu-

Dimulai dari si Cantik, lalu Maman Gendeng, lalu Kamerad Kliwon, lalu Alamanda dan seterusnya. Silih berganti mereka menjelma menjadi sosok yang akan mematahkan hatimu tanpa ampun untuk kemudian tersenyum dan berlalu. Kisah percintaan laki laki paling tampan sedunia dan perempuan paling cantik sejagad raya itupun berakhir dengan Kamerad Kliwon yang menikahi Adinda, adik Alamanda. Pedih dan menyakitkan.

Kemudian cara Eka Kurniawan menyediakan ending cerita untuk si Cantik yang seolah berkata “Ga ada gunanya menunggu akhir yang bahagia, hidup ini fucked up, telan dan jalani saja”. Sebuah cara penyampaian cerita yang, sekali lagi, pedih dan menyakitkan. Seperti kebanyakan resensi atas buku ini, membaca Cantik itu Luka memang menyisakan perasaan yang gamang dan sejumlah gugatan. Namun terlepas dari itu semua, bagi saya Cantik itu Luka adalah vakansi yang menyenangkan karena rasa rasanya tidak pernah saya temukan karakter karakter sedingin, sekelam, sepahit mereka bahkan di dalam karya Seno Gumira Ajidarma.

Dewi Ayu adalah puncak performa kelihaian pak Kurniawan dalam menguntai kepahitan karakter. Di halaman halaman awal kita disuguhkan sesosok perempuan tua bekas pelacur yang melahirkan anak buruk rupa namun justru bersyukur atas itu. Lebih lebih, menginginkan agar si anak terlahir demikian. Ia lalu memutuskan untuk mati lalu hidup kembali 21 tahun kemudian. Ia begitu karena ia ingin begitu. Fak sekali kan? KAN??

Dalam novel novel yang terobsesi menyuguhkan pesan moral sebagai dagangan singkat rangkuman cerita di cover belakang, Dewi Ayu tentu akan dijabarkan sebagai perempuan baik baik, manis ramah kesayangan semua orang di masa silam yang lalu diubah oleh keadaan. Sayapun berprediksi demikian, sebab Cantik itu Luka adalah novel pop kekinian yang digemari banyak orang.

Kenyataannya? Dewi Ayu memang bersifat demikian sejak awal mula penciptaan. Gadis kecil dengan kecerdasan alami di atas rata rata yang membuatnya lebih tenang sebab mengetahui banyak hal dari orang sekitarnya. Ia memandang orang lain tidak memiliki kecerdasan yang setara dengannya sehingga mudah baginya menjadi berkuasa atas orang lain. Ia memiliki bakat pemimpin, ketenangan yang tidak main main ditambah ketabahan luar biasa yang ditempa oleh apa (ia sudah memiliki karakter ini sejak hari pertama tentara Jepang mengurungnya di penjara, sejak hari pertama ia dijadikan pelacur di rumah Mama Kalong)

Tanpa penjelasan susah payah soal mengapa si A berkarakter demikian, Eka justru menambah unsur magis novel ini. Membuat saya dan siapapun betah untuk duduk berlama lama, membaca lompatan peristiwa dengan sederet tokoh yang berkaitan satu sama lain meski dalam beberapa chapter agak jauh ia dituliskan.

Buku ini sekaligus menjadi penanda sebuah momentum. Sebulan terakhir saya menjadi bagian dari chapter menyenangkan bersama seseorang yang tidak kalah menyenangkan dari cerita yang saya susun di dalam kepala. Ia yang sedianya ada di dalam orbit saya bertahun tahun lamanya. Orbit yang kemudian berbenturan dan menjumput kebahagiaan. Banyak, berlimpah ruah.

Lalu seperti layaknya sebuah perjalanan, saya harus kembali menyusuri orbit itu. Meninggalkan momentum itu dan melayang untuk menemukan benturan benturan baru. Begitu seterusnya hingga usia gumpalan debu kosmis ini berakhir, saya rasa. Meski terdengan suram dan membosankan, namun setiap kita memang berhutang kewajiban untuk meneruskan perjalanan.

Sampit, 6 April 2016

Seperti Dewi Ayu, dingin dan kejam nampaknya memang sebuah pilihan yang menyenangkan.

Hantu di Musim Penghujan

“Aku bermimpi tentang hantu”

Segelas air putih yang kuminum belum terteguk sepenuhnya saat Fuga mengusik perhatianku soal mimpinya tentang hantu, sepagi ini.

Ruang tengah sedang sepi. Belum tandas hausku yang harus menempuh puluhan kilometer untuk menemukan jawaban mengapa perempuan ini menghubungiku sambil menangis.

“Aku… melihat matanya yang kelabu dan mencium aroma busuk dari tubuhnya” Fuga kembali bersuara.

Tunggu, bukankah mimpi tidak berbau? Aku pernah beberapa kali bermimpi tentang makanan yang sepertinya beraroma wangi namun aku tidak pernah ingat bagaimana baunya. Tidak, sebuah mimpi tidak semestinya meninggalkan ingatan tentang bau. Aku beringsut dari dudukku, mendekati tubuhnya yang gemetar. Perempuan ini benar-benar ketakutan, dapat kulihat tatapan matanya yang menerawang jatuh dengan pupil membesar, seolah tengah menghadapi mimpi buruknya di dunia nyata. Urung kupeluk sebab terlalu lancang jika kulakukan. Tidak saat ini, tidak di tempat ini.

Fuga kini terisak pelan

“Jika bukan karena ini malam ketiga aku bermimpi hal yang sama, tentang hantu yang menatapku seolah inilah saatnya aku mati, tidak akan aku mengganggumu sepagi ini”

Bicara soal pagi, aku teringat sebuah pagi beberapa tahun silam, saat pertama kali aku mengenal Fuga. Namanyalah yang paling menarik perhatianku. Fuga Agatha. Fuga. Tidak pernah dalam hidupku aku mendengar dan bertemu orang dengan nama Fuga. Aku pernah mengenal seseorang bernama Proletariyati, Xeon hingga Berhala. Yang terakhir adalah teman karibku hingga sekarang, kedua orang tuanya adalah pekerja seni paling progresif di zamannya dan menganggap rasa sayang kepada anak tidak ubahnya sebuah pemujaan terhadap berhala. Temanku mengalami bullying sepanjang sekolah karena nama ini.

Namun Fuga, belum pernah aku bertemu dan mendengar sebelumnya. Dentumnya yang keras mengingatkanku bahwa kelahirannya pastilah membawa makna untuk menjadi lantang dan berbekas di ingatan setiap orang. Tidak seperti Berhala, betapa Fuga adalah doa. Fuga memang membawa dentuman dengan irama paling merdu sejak aku mengenalnya.

Perempuan yang pandai memainkan irama melalui kerling mata dan senyumnya yang indah. Irama yang membuat detak jantungku bertambah kencang setiap ia menelusuri pelan alur wajahku. Bermain dengan anak rambut dan membelaiku hingga tertidur. Ah, Fuga.

Lamunanku buyar. Matari masih belum sepenuhnya terbit, cahayanya yang bias berkejaran di sela jendela ruang tamu. Sudah lama aku tidakk bertemu pagi sesyahdu ini. Mungkin lantaran Fuga, yang sedari tadi beringsut merapatkan tubuhnya kepadaku dengan gemetar yang tak kunjung reda.

“Aku bisa merasakannya, sungguh. Jemarinya yang dingin mencengkram lenganku sangat erat hingga aku kesakitan dan matanya! Matanya demikian kelabu dan aku merasa takut teramat sangat” Suaranya merendah.

Tapi sebentar, konon saat bermimpi manusia tidak bisa menggunakan indera sensoriknya. Serupa aroma, Fuga tidak semestinya merasakan sensasi indera lain. Tidak mungkin bagi seseorang yang tengah bermimpi dapat merasakan dingin, bau, lebih-lebih rasa sakit.

Lantas mengapa ia meninggalkan bekas kebiruan di lengan perempuan yang kini meringkuk dengan mata sendu ini?

“Tolong aku, buat ia berhenti menyakitiku”

Kurengkuh Fuga pada akhirnya, mendekapnya seerat mungkin untuk setidaknya mengurangi rasa takut perempuan yang masih saja gemetar itu. Kupejamkan mataku serapat mungkin. Bias cahaya matahari dari jendela menyentuh wajahku saat waktu berkejaran mendatangkan siang untuk mengganti pagi. Kuhirup aroma Fuga, rambutnya mengingatkanku pada aroma hutan, entah lantaran shampoo yang digunakannya atau sekadar sugesti sebab memeluk Fuga seketika melemparkan ingatanku pada hutan tempatku sering bermain di masa kanak-kanak. Teduh dan tenang.

Dekapan kulekatkan hingga kudengar suara Fuga terbatuk perlahan. Kian lekat, kian erat.

Fuga sempat meronta beberapa saat. Dapat kurasakan kedua lengannya berupaya melepas kuncian tanganku. Namun sejurus kemudian tubuhnya adalah kesunyian yang bernas. Tidak kutemui cahaya mata penuh rasa cemas yang sedari tadi kutatap. Tidak juga kutemukan gemetar tubuhnya seperti saat ia bercerita tentang hantu dalam mimpi beberapa belas menit lalu.

Tidak kutemui apa-apa lagi di tubuh Fuga yang kini tanpa suara meregang nyawa di pelukanku. Kukecup keningnya pelan:

“Tenang, tidak ada lagi hantu yang akan memangsamu”

Sampit, 11 November 2019

Musim penghujan telah tiba.

Midsommar dan Perkara yang Sering kita Abaikan

Tahun 2019 sudah menjejak September dan baru ini saya ‘tergerak’ untuk menulis review film. Selain karena frekuensi nonton film berkurang (biasanya setiap minggu menjadi 1-2 kali sebulan) dan memang belum menemukan film yang cukup menggelitik untuk dituliskan.

Formula film menarik untuk saya sederhana saja, jika 24 jam setelah menontonnya saya masih kepikiran berarti film itu cukup mengganggu, dan saya perlu untuk merekamnya ke dalam media tulisan agar tidak terlupakan. Sayang, soalnya.

images

Midsommar pertama saya kenali dari klip teaser singkat di Twitter, pergi ke YouTube beberapa hari setelahnya untuk trailer dan I’m sold karena iming iming disutradarai Ari Aster, yang juga menyutradarai Hereditary. Mengingat saya suka tiba tiba kepikiran kepala adik tokoh utama yang putus ketabrak tiang lampu hingga berhari hari setelah menontonnya, berangkatlah saya ke Cinemaxx Citimall Sampit untuk Midsommar.

Dan rasa penasaran itu terbayar, lunas, genap seketika. Film ini berdurasi 2 jam 27 menit namun tidak satu menitpun terasa membosankan dan tidak satu adeganpun yang sia-sia. Sebagus itu, sungguh. Saya dihibur dengan turbulence emosi Dani (Florence Pugh) yang harus kehilangan keluarganya begitu saja dan perjuangannya untuk tegar di tengah kehilangan yang terasa uwuwu sekali

*** SPOILER ALERT***

Secara plot, Midsommar sebenarnya tidak menawarkan hal baru. Film serupa soal sekumpulan orang di tempat terpencil melakukan ritus aneh dan bunuh bunuhan sudah ada sejak era Stephen King meledak melalui novel (dan kemudian film) Children of the Corn. Next to next adegan juga mudah ditebak, sejak awal Pelle (Vilhelm Blomgren) mengaku berasal dari Swedia dan ikut cult runut cerita sudah bisa disimpulkan berupa:

Seseorang dari closed cult dikirim ke dunia luar untuk mencari tumbal.

Premis yang semakin kuat saat para turis (total 6 orang) yang berlibur ke Harga, desa terpencil di Swedia untuk mengikuti festival musim panas bernama Midsommar ini dipaparkan begitu saja dengan hal asing berupa dua orang yang bunuh diri secara sukarela. Mengingat kedua orang yang sudah terpapar dunia luar tidak mencegah keenam turis ini, ending cerita sudah bisa ditebak; mereka semua mati atau tidak akan bisa meninggalkan tempat itu.

Midsommar-Dani-May-Queen

mbnya cakep cakep kok mrengut aja~

Selanjutnya Midsommar adalah sembilan hari festival 90 tahunan yang dipenuhi magic mushroom, ramuan ramuan delusi, ritus aneh dan tempat tempat keramat. Pada titik tertentu, film ini mengingatkan saya pada Get Out. Yang menarik perhatian saya justru bagaimana karakter Dani berkembang dari awal hingga akhir film.

Ari Aster memainkan formula Dani sebagai perempuan yang masuk ke dalam rekrutmen untuk Midsommar secara tidak sengaja. Ia menjadi yang ganjil dalam 5 tumbal yang slotnya telah dipenuhi rekan rekan Pelle. Di sisi lain, Dani justru menjadi Ratu Kesuburan berkat memenangi lomba joget di tiang panjat pinang. Dan bagaimana film ini menggambarkan Dani yang “terbuang” dari dunia luar lalu secara sadar dan ikhlas menjadi bagian dari Horga.

Dani yatim piatu secara tiba-tiba karena adiknya yang bipolar membunuh kedua orang tua dan dirinya sendiri dengan mengisap karbondioksida. Dani kemudian tidak memiliki siapa siapa lain selain pacarnya, Christian. Di penghujung film kegamangan Dani soal dia siapa jika harus hidup tanpa Christian dikukuhkan melalui adegan ritus seksual lelaki itu dengan Mya, salah seorang penduduk Horga. Lelaki yang menjadi last resortnya berkhianat dan dipilih Dani untuk dibakar hidup-hidup pada punya festival Midsommar. Cute.

Selain perkembangan karakter yang apik, saya jatuh cinta pada teknis pengambilan gambar di film ini. Setiap shotnya artsy, setiap kostumnya mengingatkan pada baju-baju di toko Muji, setiap anglenya layak dijadikan wallpaper hape. Bahkan mayat yang punggungnya dikuliti dan digantung di kandang ayam aja artsy faklah hahaha. Sebagai film, ia berhasil mengganggu pikiran saya hingga hari ini (nontonnya kemarin sore) dan masih menjadi bahasan antara saya dan rekanan satu geng.

Disturbingly haunting. Me likey.

 

Sampit, 12 September 2019

Bluebeard’s Castle

Serial You di Netflix ini menarik sekali karena: it touches so many soft spots in me. Menamatkan 10 episodenya dalam dua malam Januari silam dan betapa saya ngefans dengan karakter Beth yang kampring di serial ini :))

Screen Shot 2019-08-05 at 22.26.11Bicara soal plot dan alur cerita sebenarnya biasa banget, milenial urban stories pada umumnya. Agak mengingatkan pada beberapa potongan cerita di novel Hanya Yanagihara yang A Little Life, soal bagaimana dinamika kehidupan milenial di New York, Amerika pada umumnya.

Pergeseran perspektif soal “American Dreams” di era Baby Boomers dan Milenial juga menarik, jika dulu yang diusung adalah soal harta dan tahta dan kesuksesan materi tiada ampun maka di zaman ini kesuksesan adalah bagaimana untuk “selesai” dengan diri sendiri sebelum terjun ke ranah rigid bermasyarakat.

1101130520_600.jpgHal ini mungkin berkaitan dengan awareness soal self-love, soal spiritualisme, soal mental illness dan seterusnya di era sekarang. Setelah revolusi internet bergaung, orang orang lebih mudah menyampaikan pergulatan batinnya sehingga wajar jika majalah Times menyebut milenial dengan The Me Me Me Generation. Generasi paling nyaring dibanding generasi generasi sebelumnya.

Saya sendiri berisik minta ampun, utamanya di ranah tulisan mengingat saya kurang nyaman dengan media visual seperti video. Sehingga ketika menemukan buku atau film/serial yang seolah olah menjadi representasi diri, saya akan ngefans seketika.

Seperti monolog Beth saat menjelang kematiannya dalam sekapan Joe di ruang bawah tanah toko buku:

How the hell did you end up here?

You used to wrap yourself in fairy tales like a blanket. But it was the cold you loved. Sharp shivers as you uncovered the corpses of Bluebeard’s wives. Sweeter goose bumps as Prince Charming slid one glass slipper over your little toes, a perfect fit.

But by the schoolyard, real princesses floated by you on fall winds. You saw the gulf between you and the rich girls, and vowed to stop believing in fairy tales. But the stories were in you, deep as poison.

If Prince Charming was real, if he could save you you needed to be saved from the unfairness of everything when would he come? The answer was a cruel shrug in a hundred fleeting moments. The sneer on Stevie Smith’s face when he called you a fat cow. Uncle Jeff’s hand squeezing your ass in the Thanksgiving kitchen. The accusation in your father’s eyes when you told him what happened.

From every boy masquerading as a man that you let into your body, your heart, you learned you didn’t have whatever magic turns a beast into a prince. You surrounded yourself with the girls you’d always resented, hoping to share their power, and you hated yourself. And that diminished you even more.

And then, right when you thought you might just disappear, he saw you. And you knew, somewhere deep, it was too good to be true. But you let yourself be swept, because he was the first strong enough to lift you.

Now, in his castle, you understand Prince Charming and Bluebeard are the same man. And you don’t get a happy end unless you love both of him. Didn’t you want this? To be loved?

Didn’t you want him to crown you?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

Didn’t you ask for it?

So say you can live like this. Say you love him, say thank you, say anything but the truth.

What if you can’t love him back?

 

Bluebeard and His Seven Wives adalah dongeng soal seorang Sultan tajir yang punya kastil dengan banyak pintu. Setiap istri yang dia bawa pulang akan penasaran dengan isi di balik pintu pintu tersebut dan Bluebeard (meski telah memberikan warning) namun tetap membuka pintu itu. Hingga pintu ketujuh terbuka, ia mau tidak mau harus membunuh istrinya itu.

Versi favoritku tentu saja dari Grimm Brothers, namun dongeng versi lightnya bisa dibaca di sini. Dongeng ini cukup terkenal hingga diangkat menjadi film di tahun 1925 dan beberapa play teater. Tentang bagaimana rasa ingin tahu pada akhirnya literally bisa membunuhmu, jauh sebelum istilah curiousity kills the cat itu muncul.

Ini adalah satu dari sekian banyak random thoughts kind of entry. Baru saja tiba dari Bali tadi siang. Delay penerbangan hingga lima jam membuat saya banyak bengong di pojokan bandara. Buku Mythology 101-nya Kathleen Sears hampir habis saat saya menemukan cerita soal Cronus yang membunuh Uranus dengan cara ngumpet di vagina Gaia sambil membawa arit untuk kemudian memotong penis Uranus. Imajinasi orang orang zaman dulu yang ajaib mengingatkan saya pada dongeng Bluebeard dan akhirnya monolog Beth di atas.

Kelindan ingatan itu berakhir dengan saya yang menangis pelan tanpa suara karena tiba tiba merindukan rumah yang tidak pernah ada itu. Teringat kepada berapa kilometer dan waktu yang saya tempuh hingga usia sekarang tapi tetap saja perasaan sunyi menyergap ketika membuka pintu di penghujung hari dan menemukan rumah kosong tanpa bunyi. Saya kira, naifnya, saya telah selesai soal penerimaan atas keadaan. Bahwa sunyi dan sepi harus diterima bukan dipungkiri. Bahwa kesendirian ini adalah konsekuensi atas pilihan yang harus dijalani dengan berani.

Tapi tetap saja,

Ia menjadi kutukan bagi yang mengetahui.

 

 

 

Sampit, 05 Agustus 2019

Sebab, tidak ada yang lebih sunyi dari perasaan tidak dimengerti.

Semantik Perspektif dan Perkara Sudut Pandang

Dari mana sebuah simpulan didapat? Bagaimana sebuah perspektif terbentuk? Apakah ia benar benar berasal dari kesadaran diri, stimulasi berfikir atau yang sering disebut sebagai self conscious? Bagaimana dengan pihak ketiga? Vektor, perantara, lingkungan sekitar, pendapat orang lain, norma, dogma, doktrin dan sejumlah kausal lain yang mampu membentuk — bahkan mempengaruhi — sebuah sudut pandang dan simpulan?

Dari sini saya belajar mengenai perspektif itu relatif. Netralitas adalah ilusi (hal ini akan saya tulis khusus kemudian). Selain relatif, saya belajar bahwa asumsi tidaklah murni berasal dari apa yang disebut sebagai self conscious. Entry blog kali ini mengarah pada apa yang tengah saya amati belakangan di Indonesia. Negara ini masih saja berkutat pada radikalisme dan kelompok penjual agama. Terakhir kabar, Kementrian Komunikasi dan Informasi melakukan pemblokiran terhadap situs situs propagandis berbau radikalisme.

Sejak awal penciptaannya hingga di era Paleotikum manusia percaya bahwa tuhan adalah api, petir, air, bahkan pohon dan batu. Zaman berlalu, peradaban kian maju dan manusia percaya bahwa tuhan adalah matahari dan dewa dewa yang bersemayam pada gunung berapi. Dewa dewa dalam ujud menyerupai manusia dan binatang yang disucikan bermunculan, menumbangkan tuhan tuhan lama yang perlahan bisa dijelaskan, diwajarkan, dirasionalkan. Keyakinan seperti ini melebar sejak abad 1 hingga 9 dan akhirnya tuhan dikirim ke alam luar, ke dimensi entah di mana, dalam wujud berupa ada. Hal ini tertuang dalam kanon kanon agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam dan segenap turunannya). Semenjak diletakkan dalam wujud yang mustahil dibuktikan secara empiris, tuhan aman di kedalaman hati masing masing manusia.

Kemudian tibalah kita di era pra modern. Gejolak sains, penemuan penemuan ilmiah dan revolusi di bidang industri pada awal 16 menjadi titik di mana ilmu pengetahuan mengalami puncak kejayaannya. Porosnya di negara Eropa meskipun di tanah Arab mengalami perkembangan serupa (tapi revolusinya berhenti sejak ada Sultan Turki di masa Ottoman iseng mengharamkan mesin cetak)

Ledakan ilmu pengetahuan membuat agama agama Semitik yang mulai kuat saat itu mendapat guncangan cukup berat hingga menimbulkan friksi antara cendekiawan dan gereja. Tidak terhitung berapa kali Galileo Galilei disidang gereja karena membawa premis mengenai bentuk alam semesta. Tidak terhitung berapa banyak ilmuan yang dipenjara karena berhasil membuat pembuktian empiris atas dongeng dongeng kanon. Selebrasi sains tidak bisa dibendung dan meluas hingga akhirnya perspektif barat berkembang ke arah baru; Ateisme, Sekularisme, Liberalisme. Perjalanannya panjang dan mengorbankan banyak nyawa. Bagi saya manusia dan bagaimana mereka memperjuangkan ideologinya selalu menjadi hal yang menarik untuk diamati.

Membebaskan tuhan dari lingkup kanon dan berita berita usang adalah perspektif saya terhadap pandangan ini. Orang orang membebaskan tuhan dari pepatan definisi dan mematahkan ilusi tentang bagaimana sesuatu terjadi dan diciptakan. Ada juga yang membebaskan tuhan dari ritus pemujaan, ada yang membebaskannya dari ujud  dan ada yang membebaskan tuhan ke titik nol. Tiada. Alpa. Nihil.

Ini disebabkan sejak era pra modern bangsa Eropa – Amerika telah mengalami gejolak mereka sendiri. Mulai kasus Ku Klux Klan hingga perang salib dan sebagainya. Bentangan masa sejak abad 16 hingga 2011-lah, yang berkontribusi besar dalam pembentukan sudut pandang kaum maju hingga tidak lagi mempermasalahkan soal eksistensi ketuhanan lantaran mereka telah mengalaminya sejak berabad lampau.

Meski kemudian, teori relativitas yang saya gunakan mengharuskan saya untuk meletakkan kemungkinan bahwa tentu masih ada sikap radikalisme dan antisekularis di negara dengan sejarah peradaban belasan tahun itu. Dengan persentase yang sangat kecil, tentu saja.

Waktu, ternyata juga bisa menjadi variabel yang membentuk sebuah perspektif.

Saya kemudian mencoba mengkomparasi fenomena tersebut di Indonesia, negara dengan usia sejarah yang tidak sampai empat abad jika dihitung sejak masa prakolonial. Indonesia sebagai sebuah negara tentu mengalami perkembangannya sendiri. Saat negara maju sudah berdamai dengan ledakan ilmu sains dan filsafat serta bagaimana kedua hal itu mempengaruhi konsep ketuhanan, Indonesia baru memulai fase tuhan adalah dewa yang mewujud dalam benda benda duniawi-nya. Lalu agama Semitik masuk melalui pedagang Arab-Gujarat (Islam) dan kolonisasi Belanda yang mengusung triteologi Gold, Glory, Gospelnya (Kristen)

Menurut saya, inilah yang kemudian menyebabkan Indonesia baru memulai fase ledakan ilmu sains dan filsafat di era milenium, ratusan tahun tertinggal dari negara barat. 

Kenapa saya menjadikan tahun 2000 sebagai benchmark perkembangan ilmu sains dan (utamanya) filsafat? Apakah saya menampik fakta bahwa selebrasi ilmu pengetahuan membuat sejarah mencatat soal pro-kontra buku Atheis-nya Achdiat K Miharja, PKI dan tudingan anti-islamnya, hingga konsep manunggaling kawula gusti di era Syech Siti Djenar di era Wali Songo? Bukankah gejolak pencarian tuhan di ranah pribadi telah terjadi sejak dulu kala? Kalau boleh saya menyebut, sejak masa Indonesia nyaris merdeka hingga Orde Baru selesai, kita baru memulai percikan perubahan konsep ketuhanan. Hal inilah era post-modernnya kita.

Percikan yang terus meletup dan akhirnya meledak di era milenium, sekarang sekarang ini. Sejak munculnya tokok Gus Dur sebagai bapak Pluralisme hingga pengukuhan Jaringan Islam Liberal di tahun 2002, rasa rasanya sejak itulah terjadi peralihan dari pra-modern ke modern di negara ini. Tren melawan arus, gelombah mahasiswa yang melawan rezim Suharto, hingga meluasnya teori Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme di ruang publik. Kita lebih bebas dalam memilih ujud tuhan dan memutuskan untuk percaya atau tidak dengan paparan konsep dan ilmu pengetahuan yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun silam di negara barat.

Pasca tumbangnya Orba, saat ini dengan mudahnya saya menemukan kelompok anarki dalam atribut punk. Sungguh berbeda dari 40 tahun silam di mana seseorang bisa dengan mudah kehilangan nyawa hanya karena ideologi yang dimilikinya.

Maka sekarang lihatlah, Indonesia tengah menikmati masa merdekanya. Kini begitu mudah menemukan buku buku Karen Armstrong, Stephen Hawking, Carl Sagan hingga Madilog-nya Tan Malaka dan menjadi bacaan setiap orang bahkan menjadi sumber studi. Bicara soal Orba, jangankan buku buku yang mempertanyakan ideologi sosial-budaya seperti Madilog, sebuah fiksi cinta cintaan Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Pulau Buru saja dibredel. Ki Panjdi Kusmin yang cuma menulis cerpen Langit Makin Mendung saja harus dipenjara, Seno Gumira Ajidharma harus kehilangan penertbitan dan pekerjaannya di majalah Djakarta, Djakarta! hingga Widji Thukul yang harus hidup dalam pelarian seumur hidupnya hanya karena menulis puisi.

Kini, tiap individu telah bebas untuk membebaskan tuhan dari koloni kanon. Dalam perjalanannya tentu akan ada friksi dan perlawanan sebagai deviasi dari era pra-modern. Indonesia tengah mengalami prosesnya sendiri untuk melawan radikalisme dan menentang upaya memundurkan peradaban melalui jualan khilafah dan mengembalikan Islam ke khittahnya.

Mungkin, ini hanya kemungkinan dan romantisme saya terhadap negara ini, setelah satu-dua abad gejolak ini mengeliat dan terus menjadi udara yang menebar perspektif progresif, negara ini akan menemukan “kemerdekaan”nya sendiri. Setelah faktor dari sudut ketiga berupa waktu menelusup untuk kemudian membentuk simpulan bahwa apa yang tabu di masa lalu, telah sedikit terbebas di saat ini, dan akan lepas sepenuhnya di masa mendatang.

Apa yang kita lihat saat ini adalah proses. Dengan harga yang mahal sejarah negara ini akan tercatat. Puluhan teror bom bunuh diri, laskar jihad hingga pembantaian atas nama agama (ibid: Cikeusik, 2011) dan segenap upaya perlawanan keji dari yang tidak menginginkan  ledakan ilmu sains dan filsafat ini terjadi. Perlawanan tanpa basis dari kelompok yang tidak mau Indonesia menjadi tanah laknat jajahan antek kafir Yahudi – Amerika.

Namun, jika perubahan serupa udara, bisakah kita menghentikannya?

Saya menempatkan diri dalam perspektif serupa belasan tahun silam. Saat satu satunya ilmu pengetahuan yang saya dapat adalah doktrin agama dari Ayah dan sekolah. Saat majalah yang tersedia di rumah nenek hanya Sabili dan Hidayah serta buku buku radikalis berkedok pencerahan islam. Namun sekarang sudut pandang saya berbeda, semenjak membuka diri untuk berhenti membaca hal tersebut dan memulai petualangan imaji dalam Madilog dan Grand Design hingga mengantarkan saya pada simpulan ini. Simpulan bahwa saya saat ini, belasan tahun berselang, saya menganggap memang sudah saatnya hal ini terjadi. Sesedih apapun saya atas collateral damage yang disebabkan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan.

Apakah ini inkonsistensi? Tidak tetapnya pendirian? Peragu?

Saya menyebutnya perspektif yang mengalami perubahan seiring dengan masuknya vektor dan kausal kausal dari luar. Yang berproses dan diterima sebagai ideologi baru. Karenanya ini tidak bisa disebut sebagai self-conscious. Bagi saya, tidak akan ada simpulan yang bisa diambil tanpa sumber. Tidak ada sudut pandang tanpa bercampurnya bias, pendapat dan diskusi tak berkesudahan.

Yang ada hanya ketidaktahuan, kealpaan, bukan sudut pandang.

Sampit, 11 Juli 2019