Completely Thirty

Aku selalu menjadi yang paling muda dalam hampir setiap lingkaran sosial, hampir sepanjang hidupku. Masuk SD di usia 4 tahun, hingga lulus SMA aku menjadi satu-satunya kelahiran 92 saat yang lain dua-tiga tahun di atasku.

Saat pertama kali bekerja, aku menjadi satu-satunya yang berusia 16 tahun di radio. Satu-satunya yang berusia 17 tahun di koran. Satu-satunya yang berusia 21 di televisi, satu-satunya yang berusia 24 tahun di jajaran eksekutif di kantor, dan seterusnya.

Sebagai yang termuda, aku terbiasa menerima pujian karena kemampuanku mencair bersama kelompok usia yang jauh di atasku. Membentukku untuk berpikiran dan menyukai hal-hal tua.

Hingga akhirnya aku terbentur pada kenyataan bahwa aku tidak lagi semuda itu. Waktu telah mengejarku hingga tidak ada lagi kekaguman atas kemampuanku melakukan sesuatu di usia semuda itu. Pengalaman dan kisah-kisahku tak lebih dari sekadar dongeng di masa lampau dan segala yang berkilau itu terasa semakin jauh. Aku akan menjadi membosankan dan ceritaku akan semakin usang karena terlalu jauh ia berada di belakang.

Kebanggaan apa yang tersisa dari seseorang yang tidak menjadi apa-apa di penghujung usia duapuluhnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s