Financial Stability Untuk Kita Yang Bukan Anak Menteri

Aku ingat betapa menakutkannya dunia luar saat pertama kali merantau di umur 19 tahun ke Jakarta. Lahir dan besar di keluarga miskin membuatku sama sekali asing dengan istilah safety net, yang ada di pikiranku adalah jika aku tidak bisa bertahan hidup, aku tidak punya apa-sesiapa yang menangkap kejatuhanku.

Saat itu hampir setiap hari aku was-was soal bagaimana cara bertahan hidup di Jakarta dengan mengandalkan diriku sendiri. Hampir setiap hari juga kelaparan karena aku payah sekali dalam mengelola uang. Kesalahan utamaku saat itu adalah tidak memiliki perencanaan apa-apa terhadap uang yang aku punya. Uang masuk dan dihabiskan sekali waktu untuk pengalaman-pengalaman tidak perlu. Sekaligus jika dipikir-pikir, aku memberikan tugas terlalu berat untuk diriku sendiri yang masih 19 tahun dan tidak mengerti apa-apa soal dunia.

Dari situ aku mulai belajar tentang personal financial. Belajar cara membuat neraca keuangan sederhana, assessment risk, menentukan tujuan jangka pendek-panjang dan seterusnya dengan keinginan yang super sederhana: aku nggak mau mati kelaparan. Kalau dibuat skema how-to, mungkin ini beberapa hal yang bisa dicoba kalau saat ini kamu mau mulai sedikit melek soal keuangan pribadi.

Pencatatan

Entah kenapa tiap bicara “pencatatan keuangan” yang muncul di kepalaku adalah ingatan saat SD, membaca komik dan melihat Ibunya Nobita atau Mamanya Shinchan yang lagi duduk di ruang keluarga dan menulis buku ledger keuangan rumah tangga mereka. I never saw my mom doing that, pas SMA aku masuk jurusan IPS dan belajar soal akuntansi sederhana kemudian ngeuh soal ini.

Saat ini aku mencatat pakai template dari Google Sheet. Mediumnya tentu nggak harus sama, dan bisa disesuaikan mau serinci apa. Aku menganggap kegiatan ini seru, jadi ledger keuangan aku isinya detil hingga ke tiga angka terakhir. Kalau hanya ingin mencatat pos general juga silakan. Yang penting, catat aja dulu.

Review Keuangan

Apa tujuan pencatatan? Biar bisa di-review. Nyatet doang terus tidak melakukan apa-apa yang ada makin tertekan karena “WOW AKU MENGHABISKAN BELASAN JUTA SEBULAN BUAT JAJAN MAKANAN DOANG” *true story. Bicara soal tren spending, I slipped many times. Kondisi mental yang kurang baik membuat alasanku membeli barang/pengalaman sering didorong mental state yang impulsif, fatalis dan mencari kompensasi. Kesadarannya dibangun dari dua sisi: memahami pattern mental diri sendiri, dan memahami kondisi keuangan saat itu.

Semakin sering dilatih dan aware dengan dua state itu, ngeremnya makin cepat karena bisa mapping “Oh ini aku lagi episode, aku impulsif pengen beli barang nggak penting, dan uang jajan aku tinggal sekian. Kalau aku abisin sekarang, minggu depan aku nggak punya uang jajan, sayang ah kalau kebutuhan jangka panjang dihabisin dalam semalam,”

Intinya, review diperlukan untuk mengerti tren pemasukan dan pengeluaran serta alasan di balik itu semua. Dari sini akan ketahuan apakah gaya hidup kita sudah sesuai dengan pemasukan.

Adjustment

Aku sering dapat komentar “Ya kalau pendapatannya pas-pasan apa yang mau dibagi?” saat bercerita tentang personal financial strategy di Twitter. Sementara aku kenal seseorang yang gajinya 1,5 juta di tahun 2021 dan masih bisa punya dana darurat. Atau bagaimana aku sendiri dengan gaji 3 juta di tahun 2013 bisa menandatangani KPR subsidi yang sekarang cicilannya setara dengan tiga lembar kaus Uniqlo.

Pertama adalah adjustment gaya hidup, di aku soal penyesuaian ini berlaku selamanya. Ada masa di mana income bisa dipakai buat beli aset, ada juga masa di mana buat nabung aja setengah mati. Ada masanya income bisa membiayai liburan ke luar negeri, ada masanya harus ngalah pindah ke kos-kosan yang lebih murah biar nggak mengusik dana darurat.

Kedua, penyesuaian anggaran. Setiap orang punya pendapatan, kebutuhan, gaya hidup dan beban pengeluaran yang berbeda-beda. Di aku sendiri pos anggaran nggak saklek, ada masa di mana dana darurat harus terkuras karena urusan keluarga dan anggaran pengeluaran diketatin lagi buat nambal, ada masa di mana kerjaan lagi sepi (aku freelancer btw) dan nggak punya sisa uang buat nabung, semuanya benar-benar customized buat setiap individu.

Tujuan utama adjustment buat aku adalah: menghindari hutang.

Pembagian Pos

Sebelum kenal LSP method, pos keuangan aku ngaco banget. Punya masa kecil serba berkekurangan, mindset aku soal duit adalah nabung-nabung-nabung sebagai kompensasi keadaan susah yang pernah aku alami. Uang masuk, dipotong buat kebutuhan rutin, sisanya masuk tabungan, mode perang banget pokoknya. Akhirnya sering stress karena hidup frugal melulu, ke-trigger, relapse, overspending nguras tabungan buat coping dengan beli barang/experience. It’s a vicious cycle.

Living Saving Playing ini sederhana tapi doable banget. Intinya membagi income ke dalam 50% Living, 30% Saving dan 20% Playing. Misalnya income 5 juta. Berarti ada ruang 2,5 juta buat pengeluaran rutin, 1,5 juta buat nabung/bayar hutang, dan 1 juta buat jajan.

Jika yang muncul “Mustahil bisa hidup dengan pengeluaran rutin 2,5 juta aja sebulan” maka kembalikan ke soal adjustment. Definisi pos living adalah pengeluaran untuk bertahan hidup. Untuk membuat ini possible adalah dengan menyesuaikan gaya hidup agar cukup ke dalam frame, atau memperbesar frame dengan mencari income tambahan.

Saat itu, aku membagi 2,5 juta menjadi satu juta untuk kos, 500 ribu untuk groceries makanan sebulan, 500 ribu untuk BPJS-handphone dan listrik, dan 500 ribu untuk bensin dan household (skinker, sabun mandi, sampo, rokok dll), nggak betah living dengan kondisi bare minimum nggak bisa beli yoghurt dan granola buat sarapan, aku mencari income tambahan untuk memperbesar plafon pengeluaranku.

Oh iya, kalau punya hutang (berbentuk cicilan atau soft loan), sisihkan dari saving sebab apa artinya punya tabungan (apalagi investasi) kalau hutang menunggak/tidak dibayar wkwk.

Arm’s Reach Goals

Apa sih financial stability itu? Yang bikin males memulai semua ini adalah mindset yang mengira untuk bisa stabil secara finansial, pendapatan kita sudah harus di angka tertentu. Atau punya safety net berupa orang tua atau pasangan kaya raya. Sehingga saat kita merasa belum sampai di titik itu (or worse, merasa mendapat lotere kehidupan yang buruk karena bukan anak orang kaya) keinginan untuk mencapai kestabilan finansial bahkan nggak muncul.

Buat aku yang bukan siapa-siapa ini, kalau mau ngegas kerja ya plafon pendapatannya juga akan mentok di situasi sebagai anak orang miskin dari kampung yang cuma lulusan SMA. Sehingga kalau aku menggunakan mindset stabilitas finansial sama dengan kaya-raya-bisa-makan-indomie-bertopping-kaviar-hanya-karena-iseng-saja, dibutuhkan keajaiban yang besar untuk mencapai itu. Dan keajaiban nggak bisa dijadikan instrumen ukuran finansial.

Jadi aku mulai dari sekarang, definisiku tentang financial stability adalah kondisi hidup di mana aku tidak punya hutang, memiliki dana darurat dan punya tabungan/investasi. Aku sudah meninggalkan target harus punya rumah, harus punya mobil, harus jalan-jalan ke luar negeri biar dianggap sukses dan seterusnya karena terasa sangat jauh dan tidak mudah dijangkau tangan.

Dengan mindset berupa arm’s reach goals, aku bisa menikmati kemenangan-kemenangan kecil setiap hari. Ini berpengaruh kepada rasa percaya diri dan ketenangan pikiran. Sekarang buatku hidup tanpa hutang, punya dana darurat, bisa dine out seminggu 2-3 kali sudah menjadi stability tersendiri. Saat melihat di akhir bulan uang tabungan tidak terusik oleh pengeluaran-pengeluaran impulsif rasanya bahagia sekali. Those are my very own little small wins.

Kita perlu menjadi lebih ramah kepada diri sendiri. Yes, it’d be ideal if you’re 35 and own your own house or car. Atau berusia 25 dan sudah liburan ke lima negara. Atau pensiun di usia 40 tahun, dan seterusnya. Tapi tidak semua orang berangkat dari garis start yang sama. Kita perlu membuat lingkungan yang lebih ramah untuk anak-anak muda yang punya struggle-nya sendiri dengan tidak meminjamkan mimpi-mimpi finansial boomer kepada mereka.

Jadi makna financial stability kamu, apa?

Denpasar, 26 September 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s