Setahun di Bali, Sebuah Manifestasi

T/W : suicidal.

Lima tahun yang lalu, aku memutuskan untuk mati di usia 30 tahun. Tahun 2016 sudah mengguncang hidupku sedemikian keras dengan runutan kejadian yang melabrak banyak sekali nilai yang kumiliki dan aku merasa worthless di penghujung tahun. Ditambah, aku tidak melihat apapun yang cukup menarik di masa depan untukku. Pekerjaan yang membosankan, rutinitas yang berulang, tidak punya mimpi, tidak ada rencana jangka panjang yang berarti. Maka saat Januari menyentuh angka sepuluh di tahun 2017, aku membuat harapan untuk ulang tahun ke 25:

“Jika dalam lima tahun ke depan aku masih merasakan hal yang sama dengan sekarang, bantu aku untuk mengakhirinya. Kuatkan aku untuk bunuh diri.”

Hari-bulan-tahun berlalu sejak usia 25 dengan begitu saja. Bangun pagi, pergi ke kantor, duduk manis delapan jam mengerjakan sesuatu yang membosankan dan berulang-ulang, pulang ke rumah yang kosong dan gelap, menonton televisi dan membaca sedikit buku lalu tidur untuk mengulangi hal yang sama keesokan hari.

Akhir pekan dan hari libur diisi dengan liburan sesekali, dalam dan luar negeri. Tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menabung, membeli mobil, bahkan. Di atas kertas, hidupku tidak layak untuk dikeluhkan. Sebab tidak sekali dua aku bercerita tentang ingatan yang mencekik hingga membuat jantungku terasa dicubit berbalas dengan kamu kurang bersyukur, hidupmu ini sungguh beruntung jika dibanding si A, si B, si C.

Tentu, aku berulang kali duduk dengan diriku sendiri dan melakukan peninjauan kembali tentang keinginan untuk mati. “Bukankah masih ada cicilan rumah delapan tahun lagi?”, “Bukankah ada keluarga dan teman yang akan bersedih jika aku sudah tidak ada lagi?”, “Bukankah aku sungguh beruntung bisa memiliki semua ini?”

Namun semua assessment yang aku lakukan berbuah dengan sanggahan yang masuk akal dan tidak merepotkan siapapun. Aku punya cukup tabungan untuk mengurus kematianku dengan baik, dan bersisa untuk menopang kehidupan keluarga. Aku tidak memiliki tanggungan hutang kecuali KPR dan itupun akan terputus setelah aku mati.

Hingga 2019 akhir, keinginan itu masih ada. Setelah rentetan jatuh-cinta dan patah-hati berkali-kali, setelah kukira jika tujuan material tidak bisa menyelamatkanku dari rencana untuk mati, siapa tahu love will be my salvation. Nyatanya, tidak tersedia cinta yang cukup dari seseorang hingga ia mau merentang kompromi atas keadaan kami. Tidak tersedia rasa sayang yang cukup hingga seseorang mau menemani meski aku sedang sulit untuk dimengerti. Tidak tersedia cukup cinta untukku hingga seseorang mau menolongku untuk melawan suara di dalam kepalaku.

Tahun baru 2020 kembali aku bisikkan

“Tinggal dua tahun lagi, kuatkan aku untuk bunuh diri,”

Pandemi, lalu aku didiagnosa depresi.

Berangkat dari patah hati sekali lagi, Oktober 2020 aku ingin mempercepat rencana kematianku. Love is not my salvation because no matter how hard I try to love, I will never be loved. Sepuluh butir Esilgan bersama setengah botol Jägermeister ditenggak sekali waktu. Di lantai dapur yang dingin aku merasakan waktu berputar pelan. Dingin dan mencekam, seperti malam tanpa rembulan di musim hujan. Ingatan masa kecil, sosok almarhum Mama duduk di sofa, bayangan hitam di jendela, berkelebat bergantian hingga akhirnya semua gelap dan aku terbangun keesokan harinya. Aku hanya terlampau mabuk malam itu. Psikiater ternyata memberiku placebo karena setelah tes MMPI dan dinyatakan MDD, aku tidak boleh menerima obat tanpa supervisi.

Dua bulan penuh aku mengurung diri di rumah. Pekerjaan berantakan tapi semua orang maklum, kita sedang transisi WFO-WFH di tengah pandemi. Performa kerjaku turun drastis hingga ditegur HRD berulang kali. Menghabiskan cuti setahun dalam sekali waktu, menambahnya dengan izin sakit dan setiap hari aku hanya menangis dan menangis saja. Sampai lelah dan tertidur, untuk bangun dan menangis lagi. Merasa situasi ini tidak ada ujungnya, aku yang sudah kepayahan untuk menyusun possibility jalan keluar mengambil exit toll dengan resign dan menyerah dengan pekerjaanku.

Kali ini, ingatan yang mencekik hingga membuat jantungku terasa dicubit bertambah dengan penolakan-penolakan beruntun saat aku mengira aku layak untuk dicintai. Saat aku kira, tubuh dan pikiranku layak untuk disayangi. Ternyata ada banyak tapi di sana, bertumpuk sederet syarat hingga aku harus menjadi bukan diriku sendiri jika ingin tetap dicintai.

23 November, tepat di hari ulang tahun almarhum Mama, aku membeli tiket ke Bali untuk berangkat keesokan harinya. Tidak ada apapun lagi yang menungguku di kota itu. Tidak ada yang menahanku untuk pergi. Tanpa rencana berarti, dengan sedikit tabungan dan koper kecil berisi tujuh lembar baju aku pergi ke Bali.

Untuk menangis dan menangis lagi.

Desember pertengahan, aku mulai cutting untuk mengurangi rasa sakit di dalam dada. Tabungan kian menipis dan aku perlu bekerja untuk bertahan hidup, setidaknya setahun lagi sampai tenggat bunuh diriku tiba. Tidak terhitung berapa banyak guratan di lengan dan paha yang aku goreskan, agar rasa nyeri dan panas dari setiap sayatan dapat mengalihkan pikiranku dan aku bisa kembali fokus untuk bekerja.

Tahun baru 2021 di Canggu, aku bertemu dengan seseorang yang juga mengidap MDD. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian. Don’t get me wrong, my friends are angels. Dukungan dan ketersediaan untuk mendengarkan selalu ada dari mereka. Tapi aku terlampau lelah untuk diadu nasibnya dengan orang-orang yang tidak aku kenal namun jauh lebih tidak “beruntung” dibanding aku.

Sehari setelah ulang tahunku, aku mulai menabung untuk biaya rutin ke psikolog. Aku disarankan untuk berhenti ke psikiater (yang sudah on-off aku kunjungi sejak 2015) dan mengulang kembali diagnosaku dengan menggunakan pendekatan psikolog. Pradnyagama menjadi pilihan setelah direkomendasikan banyak orang.

Februari aku jatuh cinta, rasanya seperti angin segar setelah berbulan-bulan menangis dan menangis saja. Menyenangkan rasanya untuk bangun pagi dengan sesuatu yang diharapkan di ujung hari. Sekadar obrolan atau pertemuan yang menyenangkan dengan sosok yang disayangi. Tapi Mungkin subconscious-ku yang bekerja, setelah hingga Maret aku merasa tidak mendapat tanggapan berarti atas pernyataan cintaku, aku memutuskan untuk pergi sebelum rasanya berkembang terlalu besar dan aku dihantam penolakan lagi. I can’t afford another heartbreak during this situation.

Setelah tabungan cukup untuk memastikan bisa konsultasi rutin, 7 April menjadi saat pertama pertemuan dengan Dokter Retno, diagnosa awal: PTSD dengan kecenderungan depresi.

Hari ini, 14 konsultasi sudah genap aku jalani dengan rentang bertahap seminggu sekali, 2 minggu sekali hingga sebulan sekali. Biayanya yang non-BPJS cukup menambah motivasi untuk segera pulih agar tidak perlu ke psikolog serutin itu lagi. Sepertinya ada beberapa konsultasi dengan jawaban yang aku fabrikasi agar aku tidak diminta untuk datang kembali setelah 7 hari.

September menjadi bulan pertama tanpa kunjungan ke psikolog. Pekerjaanku membaik, aku mendapat banyak kesempatan untuk bekerja sebagai penulis, mimpi lama yang sempat aku sebut sebagai cita-cita saat SMA dulu. Aku pelan-pelan membuat mental note untuk membagi porsi berduka dan menangis secukupnya. Rasa sakitnya masih ada, sesekali singgah, terutama di tengah malam seperti ini. Saat lampu dimatikan dan aku tertinggal sendirian dengan pikiranku. Tapi mungkin, sudah cukup aku memberikan ruang untuk berduka terlalu larut. Untuk meratap terlalu lama.

September sekaligus menjadi penanda, genap dua bulan aku bisa berdamai dengan kesepian. Sejauh aku mengingat, tidak ada sekalipun aku merasa resah saat sendirian dan kepalaku mulai berbicara. Tidak ada keinginan untuk membuat distraksi, untuk menenggak alkohol, untuk bertemu entah siapa, untuk membuat suaranya hilang untuk sementara. Aku dengarkan saja, sambil melakukan apa yang aku suka; bekerja.

Berminggu-minggu tidak bertemu manusia lain ternyata tidak seburuk itu. Aku masih menerka apa yang mendorongku untuk pindah dan tinggal selama ini di Bali. Aku tidak bisa dengan gamblang menyebut bahwa Bali “menyelamatkanku”, karena memang tidak ada rencana pasti atas keberadaanku di sini. Seluruh pekerjaanku bisa dilakoni dari mana saja.

Waktu itu, setelah psikiater menolak untuk mengobatiku kecuali aku meminta Abah untuk menandatangani surat pernyataan bersedia dirujuk ke RSJ Provinsi jika aku kembali mencoba bunuh diri, aku hanya ingin lari. Aku belum menggenapi tahun kematianku. Aku masih ingin berjudi dengan alam semesta tentang tenggat waktuku. Aku ingin melihat apakah aku cukup spesial untuk diselamatkan dari diriku sendiri.

Hanya Bali yang terlintas di malam itu. Sejak 2016 Bali telah kukunjungi puluhan kali. Tempat di mana aku jatuh cinta untuk pertama kali, tempat di mana aku bisa bercerita tentang apa saja, tempat yang membuatku merasa akhirnya dimengerti. Hanya Bali, yang membawa rasa nyaman meski di sini hatiku dikoyak dua kali oleh orang yang sama. Tapi ia juga memiliki pelukan yang lebih nyaman dari apapun yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.

Mungkin sekadar bias, mungkin hanya delusi yang aku bangun di dalam kepala, namun rasa nyaman sepanjang Februari – Maret 2021 yang aku preserve sebaik mungkin dalam toples yang sempurna tanpa cacat dan cela telah berhasil membantuku melalui sesi terapi yang panjang dan menguras emosi. Toples kenangan yang aku simpan meski telah berbulan-bulan tanpa sapaan menjadi pelipur di malam seperti ini. Sesuatu yang sepele dan bisa (dan mungkin sudah) dilakukannya dengan siapa saja menjadi patronus untuk mengusir rasa sakit dan suara di dalam kepala.

September sebentar lagi berakhir, tinggal tiga bulan sebelum aku genap berusia 30 dan memasuki tahun yang direncanakan akan menjadi tahun terakhir kehidupanku. Apakah keinginan untuk mati di usia 30 masih ada? Jawabannya masih. “Resolusi” itu menjadi bantal empuk yang menghiburku saat semuanya terasa begitu menghimpit dan mudah untukku berkata “I could just die anytime I want,”

Tapi ini saatnya untuk berhenti berjudi dengan semesta. Aku tidak se-spesial itu hingga harus ada grand design khusus untukku seorang. Tidak siapapun, termasuk Tuhan, berhutang penghidupan yang baik untukku. Maka tindakan untuk membuat tenggat dan menuntut perubahan dari luar adalah upaya sia-sia. Meski telah bertahap aku hilangkan jejak perasaanku di dunia maya dan membakar jurnal selama satu dekade kehidupanku karena aku tidak ingin dipepatkan dalam premis berupa “Nani yang mati bunuh diri karena kurang bersyukur.”

So I guess I’ll just live.

Until I don’t.

Denpasar, 24 September 2021.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s