to lost and never be found

Dibanding 10-15 tahun lalu, menulis menjadi perkara rumit untukku sekarang. Untuk sekadar duduk, menyalakan sebatang-dua batang rokok, menyeduh kopi lalu membuka laman ini saja telah menghabiskan sepanjang siang. Setiap kalimat yang telah ditulis, dibaca lalu dihapus lalu ditulis kemudian dihapus kembali. Membaca kembali blog ini di 10 tahun silam, aku semacam iri, ringan sekali bagi Nani usia 18 tahun menjadi jujur terhadap dirinya sendiri.

Semakin usia bertambah, semakin banyak yang aku pelajari, yang sedikit banyak aku mengerti, namun mereka seumpama gumpalan di kerongkongan yang mencegahmu untuk berbicara. Beberapa lainnya bermanifestasi menjadi keraguan akankah aku dimengerti atau sekadar diberikan satu lagi stempel sebagai makhluk yang tidak sebaiknya didekati.

Jika dulu mudah bagiku berapi-api menuliskan kegelisahan sesederhana rasa kesal sehabis membaca pembunuhan umat Ahmadiyah di Cikeusik, yang kemudian berkembang menjadi artikel-opini bahkan cerpen, kini apa yang aku pikirkan dan rasakan adalah abstrak yang tidak hanya rumit untuk diurai, ia mengkonsumsi terlalu banyak energi dalam proses penguraiannya hingga ide-ide menguar begitu saja sebelum ia bahkan dipahami.

Astaga, lelah sekali berada di dalam kepala ini.

Denpasar, 15 Juni 2021.

3 thoughts on “to lost and never be found

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s